Nunukan – Peran strategis Account Officer (AO) PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi ujung tombak dalam menyalurkan pembiayaan dan pendampingan bagi pelaku usaha ultra mikro di pelosok Indonesia.
Fipi Novita Sari, seorang AO yang bertugas di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, membuktikan dedikasinya dengan menempuh perjalanan darat yang menantang serta jalur laut yang berisiko demi menemui para nasabah.
Selama tiga bulan terakhir, Novi harus melintasi medan berbukit dan berkelok yang didominasi perkebunan kelapa sawit untuk menjangkau kelompok usaha binaannya.
Kondisi cuaca di wilayah perbatasan tersebut sering kali menjadi kendala utama dalam mobilitasnya sehari-hari.
“Terkadang kami harus mengejar waktu sehingga perjalanan terasa cukup menantang, apalagi ketika banyak kendaraan roda empat yang melintas,” ujar Novi dikutip dari laporan resmi perusahaan, Jumat (11/9/2026).
Tugas utama Novi saat ini adalah melakukan pendampingan intensif bagi 18 kelompok nasabah yang mencakup hampir 100 pelaku usaha.
Sebagian besar nasabah yang ia dampingi merupakan perempuan pelaku usaha rumput laut yang membutuhkan modal kerja tambahan.
Dana pembiayaan dari program Mekaar tersebut dimanfaatkan para nasabah untuk membeli peralatan pendukung budidaya, seperti tali pengikat rumput laut.
Novi mengamati adanya transformasi ekonomi yang signifikan di kalangan nasabah di wilayah tersebut.
Perempuan yang sebelumnya hanya bekerja sebagai buruh ikat atau pengering rumput laut, kini mulai berani merintis usaha mandiri setelah memperoleh akses modal.
“Jadi, sebelumnya hanya sebagai pekerja, sekarang mereka mulai memiliki usaha sendiri,” kata Novi dalam keterangan tertulisnya.
Selain sektor rumput laut, ia juga mendampingi pelaku usaha hasil laut lainnya seperti udang dan kerang tudai yang dikelola secara kolektif oleh keluarga.
Ekosistem usaha di Pulau Sebatik ini juga terhubung dengan rantai ekonomi yang lebih luas hingga ke luar pulau.
“Biasanya ada juga nasabah di Nunukan yang membuat produk seperti amplang rumput laut. Untuk rumput lautnya sendiri, sebagian dikirim ke Sulawesi. Dari sana, ada pabrik yang kemudian mengolahnya dan sebagian bisa diekspor,” ungkap Novi.
Pertumbuhan usaha nasabah di tingkat mikro ini diyakini mampu menciptakan efek domino bagi penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitar.
“Dampak nyatanya adalah nasabah bisa membuka peluang kerja bagi orang lain. Mereka bisa mengembangkan usahanya sehingga usahanya semakin besar dan pada akhirnya dapat menjadi peluang pekerjaan bagi masyarakat lainnya,” ulasnya.
Inisiatif pendampingan yang dilakukan Novi merupakan bagian dari komitmen Holding Ultra Mikro (UMi) yang terdiri dari BRI, Pegadaian, dan PNM.
Holding UMi saat ini telah mencatatkan jangkauan layanan kepada 33,6 juta nasabah pinjaman di seluruh Indonesia.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa kisah di lapangan seperti yang dialami Novi merupakan wujud nyata manfaat integrasi layanan keuangan bagi masyarakat di pelosok.
“Kisah Novi di Sebatik menjadi salah satu gambaran bagaimana manfaat tersebut hadir hingga ke pelosok daerah. Di tengah medan yang menantang, Novi terus menjangkau dan mendampingi nasabah agar dapat mengembangkan usaha, termasuk para pelaku usaha rumput laut,” pungkas Dhanny.























