Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk menegaskan komitmennya untuk mempertahankan standar keberlanjutan dalam rantai pasok bahan baku di tengah dinamika perubahan iklim dan ketegangan geopolitik global.
Perusahaan FMCG tersebut memastikan seluruh bahan baku yang digunakan tetap aman bagi konsumen serta memiliki dampak positif terhadap kelestarian lingkungan.
Strategi ini menjadi inti operasional bisnis perusahaan guna menjaga kepercayaan pasar di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.
Director of Communication, Corporate Affairs, and Sustainability PT Unilever Indonesia Tbk, Nurdiana Darus, mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan pengawasan ketat terhadap seluruh jaringan pemasok.
“Kami tahu supplier kami, bahkan hingga anak supplier. Kami memantau apakah sumber kami bagus dan baik, bukan hanya baik untuk manusia, tetapi juga ke lingkungan,” ujar Nurdiana Darus, dikutip dari pernyataan resmi dalam sesi Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact pada Kamis (17/9).
Data internal perusahaan menunjukkan bahwa Unilever Indonesia berhasil melakukan transformasi rantai pasok sepanjang tahun 2025 sebagai respons atas kendala pasokan global.
Perusahaan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor dengan mengoptimalkan potensi sumber daya domestik.
Hingga akhir 2025, sebanyak 60% pasokan bahan baku perusahaan telah berasal dari pemasok lokal yang memenuhi standar keberlanjutan.
Komoditas utama seperti kedelai hitam dan minyak kelapa sawit menjadi fokus utama dalam implementasi kebijakan ini.
Pasokan kedelai hitam untuk lini produk kecap manis kini telah sepenuhnya memenuhi sertifikasi Sustainable Agricultural Code (SAC).
Sementara itu, verifikasi independen mencatat bahwa 98,3% pasokan minyak kelapa sawit perusahaan telah terverifikasi bebas dari praktik deforestasi.
Selain aspek lingkungan, perusahaan juga memperketat kualifikasi bagi mitra bisnis melalui Responsible Partner Policy (RPP).
Sebanyak 90% pemasok telah memenuhi standar tersebut, yang mencakup perlindungan hak asasi manusia serta standar kelestarian lingkungan.
Nurdiana Darus menekankan bahwa integrasi keberlanjutan dalam rantai pasok bukan sekadar formalitas, melainkan strategi bisnis jangka panjang.
“Komitmen sustainability memang harus menjadi jantung bisnis perusahaan, tidak bisa hanya di level CSR. Perusahaan bertanggung jawab terhadap sustainable ingredients, sustainable packaging, sampai sustainable production. Itu akan meningkatkan kepercayaan konsumen,” tambahnya.
Langkah ini selaras dengan tren perilaku konsumen yang semakin sadar akan isu lingkungan.
Riset dari Katadata Insight Center (KIC) pada tahun 2021 menunjukkan bahwa mayoritas konsumen, yakni sebesar 60,5%, bersedia membayar lebih untuk produk yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Motivasi utama konsumen dalam memilih produk tersebut adalah keinginan untuk berkontribusi langsung pada pelestarian bumi.
Dengan memperkuat rantai pasok berkelanjutan, Unilever Indonesia berupaya memitigasi risiko operasional sekaligus menjawab permintaan pasar yang terus berkembang.
Upaya ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan di masa depan meskipun kondisi geopolitik dunia masih menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian.



















