Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa (22/9/2026).
Indeks ditutup terkoreksi sebesar 1,11 persen atau melemah 71,16 poin ke level 6.313.
Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif yang menyelimuti pasar domestik sepanjang sesi pagi.
Branch Manager Panin Sekuritas, Elandry Pratama, menyatakan bahwa pergerakan indeks hari ini dipengaruhi oleh sikap kehati-hatian investor.
Para pelaku pasar saat ini sedang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (23/9/2026).
“Salah satunya karena pasar wait and see RDG BI besok,” ujar Elandry saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).
Selain faktor kebijakan moneter, tekanan pada pasar juga bersumber dari aksi ambil untung atau profit taking oleh para investor.
Tekanan jual tersebut diperparah oleh penurunan harga pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps.
Elandry menambahkan, dalam kondisi ketidakpastian ini, para pelaku pasar cenderung memilih untuk memitigasi risiko dengan mengurangi posisi mereka di bursa.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan volume transaksi pada sesi pertama mencapai 20,63 miliar saham.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,35 juta kali dengan total nilai transaksi sebesar Rp 7,98 triliun.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar domestik saat ini berada di angka Rp 11.060 triliun.
Statistik perdagangan menunjukkan dominasi tekanan jual dengan 513 saham ditutup melemah.
Hanya 147 saham yang mampu mencatatkan kenaikan, sementara 128 saham lainnya stagnan.
Seluruh sektor yang terdaftar di bursa kompak berada di zona merah tanpa terkecuali.
Sektor energi menjadi kontributor pelemahan terdalam dengan penurunan sebesar 2,21 persen.
Beberapa emiten di sektor ini yang mencatatkan koreksi signifikan antara lain PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang anjlok 3,42 persen.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turun 3,85 persen, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merosot 3,65 persen, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melemah 3,23 persen.
Sektor bahan baku juga mengalami tekanan serupa, di mana PT Timah Tbk (TINS) turun 3,67 persen dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) jatuh 3,62 persen.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat sebagai saham dengan nilai transaksi tertinggi, yakni sebesar Rp 460,91 miliar.
Diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai transaksi Rp 384,04 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 328,45 miliar.
Kontras dengan kondisi di dalam negeri, bursa saham di kawasan Asia justru menunjukkan kinerja positif.
Indeks Nikkei Jepang menguat 1,38 persen, Shanghai Composite naik 0,22 persen, Hang Seng tumbuh 0,21 persen, dan Kospi Korea menguat 0,42 persen.
Pada jajaran top gainer, saham PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) memimpin kenaikan dengan lonjakan 34,35 persen.
Sementara itu, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memuncaki daftar top loser dengan koreksi sebesar 7,81 persen.



















