Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah diprediksi akan menghadapi tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin (28/9/2026).
Sentimen utama yang membayangi pasar keuangan domestik adalah konsistensi indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang masih tertahan di level 100.
Berdasarkan data Trading Economics (25/9/2026), indeks dolar AS atau DXY tercatat berada pada posisi 100,971.
Meski secara harian DXY mencatatkan pelemahan sebesar 0,31%, angka tersebut masih menunjukkan penguatan mingguan sebesar 0,75%.
Kondisi ini menempatkan investor dalam posisi waspada terhadap kebijakan moneter lanjutan dari bank sentral AS, The Fed.
Sebelumnya, rupiah sempat menunjukkan ketahanan pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (25/9/2026).
Data Bloomberg mencatat, rupiah ditutup pada level Rp 17.902 per dolar AS, atau menguat tipis 0,07%.
Penguatan tersebut selaras dengan tren positif yang dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia terhadap mata uang Paman Sam.
Namun, data berbeda ditunjukkan oleh Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Pada periode yang sama, kurs referensi BI menunjukkan rupiah berada di level Rp 17.917 per dolar AS.
Angka tersebut mencerminkan pelemahan sekitar 0,11% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.898 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed sebagai faktor penentu utama pasar.
Menurutnya, pernyataan dari pejabat otoritas moneter AS memperkuat ekspektasi pasar mengenai potensi pengetatan kebijakan lebih lanjut.
“Para pejabat Federal Reserve juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lanjutan, Presiden The Fed wilayah New York John Williams menyatakan, wajar jika kita melihat adanya kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun,” ujar Ibrahim sebagaimana dikutip dari keterangannya (25/9/2026).
Selain faktor moneter, eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi variabel yang diperhatikan pelaku pasar.
Saat ini, perundingan intensif tengah berlangsung di New York untuk mencari solusi atas konflik yang berkepanjangan.
Fokus utama dari negosiasi tersebut melibatkan upaya pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
“Para negosiator AS dan Iran di New York sedang menjajaki jalan keluar bertahap dari konflik yang mencakup langkah Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan langkah Washington untuk mencabut blokade ekonomi terhadap Iran,” jelas Ibrahim dalam keterangannya (25/9/2026).
Perkembangan geopolitik ini secara langsung memengaruhi harga minyak dunia dan ekspektasi inflasi global.
Fluktuasi harga komoditas energi tersebut menjadi pertimbangan investor dalam menempatkan aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Untuk perdagangan Senin (28/9/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang fluktuatif.
Mata uang Garuda diperkirakan memiliki kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per dolar AS.






















