Harga Minyak Menguat Terdorong Negosiasi Selat Hormuz dan Ekspor Saudi

persen

Harga Minyak Menguat Terdorong Negosiasi Selat Hormuz dan Ekspor Saudi

Jakarta – Harga minyak mentah Brent kembali mengalami tren penguatan pada perdagangan Rabu (30/9), mendekati level psikologis US$ 98 per barel.

Komoditas energi ini kini berada di jalur positif untuk mencatatkan akumulasi kenaikan bulanan dengan persentase di atas 8%.

Sentimen utama yang memicu lonjakan harga tersebut adalah ketidakpastian geopolitik yang menyelimuti proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketegangan diplomatik ini terus memberikan tekanan pada pasar global yang mengantisipasi dampak dari kebijakan energi di Timur Tengah.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, memberikan pernyataan terkait perkembangan terbaru dalam komunikasi dengan pihak Washington.

“Teheran telah menerima proposal AS terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, menyusul pengajuan persyaratan dari pihak Iran sendiri pada pekan lalu,” ujarnya dikutip dari Tradingeconomics, Rabu (30/9).

Meski negosiasi masih berlangsung, dinamika pasokan minyak di wilayah Timur Tengah justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan.

Arab Saudi telah mengonfirmasi bahwa pengiriman minyak melalui terminal Yanbu sudah kembali berjalan normal.

Pemulihan ini dimungkinkan setelah negara tersebut berhasil mengoperasikan kembali jalur pipa Timur-Barat yang menjadi rute alternatif vital.

Rute ini sangat krusial karena berfungsi memangkas ketergantungan distribusi minyak dunia pada jalur Selat Hormuz yang sedang diperselisihkan.

Data terbaru menunjukkan volume ekspor minyak mentah dari Timur Tengah telah mendekati angka normal sebelum periode konflik.

“Rata-rata ekspor minyak mentah Timur Tengah selama 10 hari diperkirakan mencapai 17,5 juta barel per hari, setara dengan 98% dari volume sebelum perang,” tulis Tradingeconomics dalam laporannya.

Sementara itu, dinamika persediaan minyak di Amerika Serikat memberikan sinyal yang cukup beragam bagi para pelaku pasar.

Laporan dari American Petroleum Institute (API) mencatat adanya peningkatan pada stok minyak mentah dan cadangan bensin selama sepekan terakhir.

Namun, di sisi lain, stok distilat di negara tersebut justru mengalami penurunan yang cukup berarti.

Para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) yang dijadwalkan terbit pada pertengahan pekan ini.

Para analis di industri energi memproyeksikan adanya penurunan pada total inventaris minyak mentah maupun produk turunannya dalam laporan EIA nanti.

Kombinasi antara ketidakpastian diplomatik di Timur Tengah dan data inventaris AS menjadi faktor penentu pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.

Investasi di sektor energi saat ini tetap menunjukkan volatilitas tinggi seiring dengan perubahan data pasokan mingguan dan narasi politik internasional.

Para pedagang minyak mentah terus memantau setiap perkembangan negosiasi yang berpotensi mengubah lanskap distribusi energi global secara drastis dalam beberapa hari ke depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar