Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026).
Indeks utama bursa domestik ini merosot 1,88 persen atau setara dengan 115,44 poin ke posisi 6.031,28.
Gejolak geopolitik global menjadi pemicu utama pelemahan pasar modal hari ini.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa sentimen negatif dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia sebesar lebih dari 4 persen.
Kenaikan komoditas energi tersebut dipicu oleh laporan rencana serangan masif Pemerintah Amerika Serikat terhadap Iran.
Selain faktor geopolitik, gangguan pasokan minyak mentah dunia juga memperburuk sentimen di pasar keuangan.
Produksi minyak di wilayah Teluk Meksiko dilaporkan terhenti hingga lebih dari 510 barel per hari akibat terjangan badai tropis.
Kondisi eksternal ini diperparah dengan tekanan pada mata uang domestik.
Nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,08 persen ke level Rp 17.890 per dolar AS.
Secara teknikal, posisi indeks saat ini menunjukkan sinyal yang kurang menguntungkan bagi para investor.
Alrich Paskalis Tambolang menyebut IHSG telah ditutup di bawah garis MA5 dan MA10 dengan volume penjualan yang cenderung meningkat.
Ia menekankan bahwa level psikologis 6.000 menjadi area krusial yang harus diperhatikan pelaku pasar.
Jika IHSG mampu bertahan di atas level 6.000, terdapat peluang indeks untuk melakukan rebound dan membentuk pola double bottom.
Sebaliknya, jika level tersebut gagal dipertahankan, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan ke kisaran 5.800 hingga 5.900.
Tekanan jual ini tidak hanya terjadi di pasar domestik, melainkan mencerminkan tren bursa global yang terkoreksi.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto, menjelaskan bahwa pasar masih dibayangi oleh arus keluar modal asing atau capital outflow yang belum mereda.
Lonjakan harga minyak mentah global memicu kekhawatiran baru di kalangan investor terkait laju inflasi.
Kondisi tersebut turut memicu spekulasi mengenai prospek suku bunga acuan yang lebih hawkish di masa depan.
Ketidakpastian ekonomi global ini membuat pelaku pasar cenderung mengambil langkah antisipatif dengan mengurangi porsi aset berisiko.
Untuk perdagangan esok hari, Jumat (9/10/2026), pergerakan IHSG diprediksi masih akan dibatasi oleh volatilitas pasar.
Pandhu Dewanto memperkirakan indeks akan bergerak dalam rentang support dan resistance antara 5.850 hingga 6.216.
Para pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi makro lainnya.
Kombinasi antara tekanan nilai tukar dan ketidakpastian harga energi diprediksi masih akan menjadi penentu arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.


















