IHSG Terkoreksi ke 6.140, AADI hingga ANTM Pimpin Deretan Top Losers

Kholida Rahman

IHSG Terkoreksi ke 6.140, AADI hingga ANTM Pimpin Deretan Top Losers

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren negatif pada awal sesi perdagangan hari ini, Kamis (8/10/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks acuan domestik tersebut mengalami koreksi sebesar 0,10 persen.

Posisi IHSG kini berada di level 6.140,66 pada pukul 09.03 WIB.

Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan yang terjadi pada perdagangan hari sebelumnya.

Tekanan jual yang luas di berbagai sektor menjadi pemicu utama koreksi indeks pagi ini.

Sektor energi tercatat sebagai kontributor terbesar terhadap pelemahan indeks.

Selain sektor energi, sektor properti dan real estate juga mengalami tekanan signifikan.

Kondisi serupa terjadi pada sektor barang baku dan infrastruktur yang ikut terseret ke zona merah.

Sektor kesehatan, transportasi, barang konsumer primer, serta teknologi juga tidak mampu menahan laju penurunan.

Data perdagangan menunjukkan bahwa total volume saham yang ditransaksikan mencapai 2,19 miliar lembar.

Nilai transaksi harian di pasar modal domestik tercatat sebesar Rp 404,9 miliar pada awal sesi.

Sentimen negatif mendominasi pasar dengan jumlah saham yang terkoreksi mencapai 228 emiten.

Sebaliknya, hanya 189 saham yang mampu mencatatkan penguatan.

Sementara itu, sebanyak 253 saham lainnya masih bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.

Dalam daftar saham LQ45 yang mengalami tekanan jual atau top losers, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memimpin dengan penurunan 1,86 persen ke posisi Rp 11.875 per saham.

Diikuti oleh PT Mitra Adiperaksa Tbk (MAPI) yang melemah 1,61 persen menjadi Rp 1.525 per saham.

Selanjutnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan penurunan sebesar 1,24 persen ke level Rp 3.190 per saham.

Di sisi lain, terdapat pula saham-saham yang masuk dalam jajaran top gainers di indeks LQ45.

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) memimpin penguatan dengan kenaikan 2,23 persen ke Rp 366 per saham.

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyusul dengan apresiasi harga sebesar 1,32 persen menjadi Rp 765 per saham.

Saham perbankan berkapitalisasi besar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), juga menguat 1,24 persen ke level Rp 6.125 per saham.

Kondisi pasar yang volatil ini mencerminkan sikap kehati-hatian investor di tengah dinamika ekonomi terkini.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa investor cenderung melakukan aksi ambil untung maupun penyesuaian portofolio pada awal sesi perdagangan.

Fluktuasi yang terjadi pagi ini menjadi kelanjutan dari tren koreksi mingguan yang sempat terjadi pada awal Oktober.

Pelaku pasar kini menanti katalis baru dari data fundamental ekonomi domestik untuk menentukan arah pergerakan indeks selanjutnya.

Hingga berita ini diturunkan, tekanan jual masih terlihat cukup dominan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar