Akuisisi Rp 6,91 Triliun Berpotensi Tekan Laba Siloam, Simak Analisisnya

persen

Akuisisi Rp 6,91 Triliun Berpotensi Tekan Laba Siloam, Simak Analisisnya

Jakarta – PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) diproyeksikan menghadapi tekanan pada laba bersih dalam jangka pendek menyusul langkah korporasi mengakuisisi 14 perusahaan pemilik aset rumah sakit dari First REIT.

BRI Danareksa Sekuritas memprediksi beban pendanaan yang membengkak akibat transaksi jumbo tersebut akan memangkas laba perusahaan secara signifikan.

Estimasi penurunan laba bersih diperkirakan mencapai 4% pada akhir tahun 2026.

Tekanan diproyeksikan berlanjut lebih dalam hingga mencapai 24% pada tahun 2027 dibandingkan dengan proyeksi awal.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Wilastita Muthia Sofi, menyatakan bahwa kenaikan biaya pendanaan menjadi faktor utama yang memicu dilusi laba tersebut.

“Kenaikan biaya pendanaan dapat menurunkan laba sekitar 4% pada 2026 dan 24% pada 2027 dibandingkan dengan estimasi kami sebelumnya,” tulis Wilastita dalam risetnya, Rabu (23/9/2026).

Nilai total akuisisi 14 perusahaan tersebut mencapai Rp6,91 triliun.

Proses akuisisi dilakukan dalam dua tahap yang telah mendapatkan restu dari para pemegang saham.

Tahap pertama melibatkan delapan perusahaan dengan nilai transaksi sebesar Rp4,1 triliun.

Manajemen menargetkan penyelesaian transaksi tahap pertama ini dapat rampung sepenuhnya pada Oktober 2026.

Tahap kedua mencakup akuisisi enam perusahaan lainnya dengan nilai transaksi mencapai Rp2,8 triliun.

Pelaksanaan tahap kedua bergantung pada penggunaan hak opsi jual atau put option yang memiliki batas waktu hingga 31 Maret 2027.

Dampak terhadap kinerja keuangan pada tahun 2026 diprediksi berasal dari tahap pertama yang mulai dihitung sejak kuartal IV.

Sementara itu, pada tahun 2027, beban diproyeksikan mencakup dampak penuh tahap pertama dan 75% dari dampak tahap kedua.

Dalam kalkulasinya, analis menggunakan asumsi tingkat bunga pendanaan all-in sebesar 6,5%.

Selain beban bunga, SILO juga akan menghadapi tambahan biaya depresiasi aset rumah sakit yang baru diakuisisi.

Penyusutan aset tersebut menggunakan metode garis lurus dengan jangka waktu 15 tahun.

“Meski transaksi ini pada awalnya berdampak dilutif terhadap laba akibat kenaikan biaya pendanaan, transaksi tersebut dalam jangka panjang dapat menghapus biaya sewa atas aset rumah sakit yang diakuisisi sekaligus meningkatkan kepemilikan SILO atas aset rumah sakit,” jelas Wilastita.

Penghematan dari penghapusan biaya sewa diyakini akan terkompensasi oleh beban depresiasi baru tersebut.

Namun, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli atau buy untuk saham SILO.

Target harga saham ditetapkan pada level Rp2.850 per lembar.

Prospek pertumbuhan jangka panjang perseroan dinilai tetap terjaga berkat kepemilikan aset yang lebih kuat.

Secara struktural, langkah ini memberikan keuntungan berupa efisiensi biaya operasional di masa depan.

Kinerja operasional SILO pada kuartal III 2026 diperkirakan masih berada dalam kondisi yang resilien.

Risiko utama yang perlu diwaspadai investor meliputi kenaikan suku bunga lebih lanjut serta potensi keterlambatan dalam penyelesaian tahapan transaksi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar