Jakarta – Taipan tambang batu bara Low Tuck Kwong kokoh mempertahankan posisinya sebagai orang terkaya di Indonesia.
Dominasi ini tetap terjaga meskipun terjadi dinamika besar dalam struktur kepemilikan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Data The World’s Real-Time Billionaires Forbes per 21 September 2026 mencatat kekayaan Low Tuck Kwong mencapai US$ 18,2 miliar.
Posisi tersebut menempatkannya jauh melampaui para pesaing di jajaran elit pengusaha nasional.
Prajogo Pangestu dari Grup Barito menempati urutan kedua dengan total kekayaan sebesar US$ 16,3 miliar.
Sementara itu, R. Budi Hartono dari Grup Djarum berada di peringkat ketiga dengan nilai kekayaan US$ 15,8 miliar.
Anthoni Salim menyusul di posisi keempat dengan kepemilikan aset senilai US$ 10,9 miliar.
Melengkapi daftar lima besar, Tahir dan keluarga tercatat memiliki kekayaan sebesar US$ 9,41 miliar.
Stabilitas peringkat Low Tuck Kwong terjadi di tengah kabar rencana akuisisi 30% saham BYAN oleh pihak Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama.
Perjanjian jual beli saham bersyarat antara Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, dengan pihak Jhonlin Baratama telah ditandatangani pada 16 September 2026.
Transaksi jumbo ini melibatkan pelepasan 10 miliar lembar saham milik pengendali Bayan Resources tersebut.
Namun, hingga hari ini, Selasa (22/9/2026), aksi korporasi tersebut dilaporkan belum sepenuhnya rampung.
Kabar rencana akuisisi ini sempat memicu lonjakan harga saham BYAN sebesar 35% dalam periode singkat.
Saham emiten tersebut naik dari level Rp 10.200 pada 15 September menjadi Rp 13.825 pada 18 September 2026.
Meski demikian, volatilitas harga saham BYAN kembali terlihat pada perdagangan hari ini.
Data pasar menunjukkan saham BYAN terkoreksi 3,62% dan parkir di level Rp 12.650 per lembar saham.
Secara kumulatif dalam satu minggu terakhir, saham perseroan masih mencatatkan kenaikan sebesar 24%.
Akan tetapi, secara tahun berjalan atau year to date (ytd), performa saham BYAN masih tertekan dengan penurunan sebesar 19,43%.
Daftar 20 orang terkaya di Indonesia versi Forbes juga mencakup nama-nama besar lainnya di sektor infrastruktur, perbankan, dan komoditas.
Sri Prakash Lohia menempati posisi keenam dengan nilai kekayaan US$ 8,77 miliar.
Selanjutnya, Otto Toto Sugiri berada di posisi ketujuh dengan US$ 8,31 miliar, diikuti Marina Budiman dengan US$ 5,94 miliar.
Lim Hariyanto Wijaya Sarwono dan Theodore Rachmat melengkapi daftar sepuluh besar dengan kekayaan masing-masing US$ 5,04 miliar dan US$ 4,71 miliar.
Daftar ini menunjukkan konsentrasi kekayaan yang signifikan pada segmen konglomerat nasional.
Kondisi pasar keuangan yang fluktuatif serta aksi korporasi strategis terus menjadi faktor utama yang memengaruhi nilai kekayaan para miliarder tersebut.





















