Analis Ungkap Peluang IHSG Sentuh 9.000 Akhir 2025

persen

Jakarta – Optimisme terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk menembus level psikologis 9.000 pada akhir tahun 2025 tetap menguat, meskipun indeks ditutup melemah pada perdagangan Kamis (27/11/2025). Proyeksi ini didukung oleh analisis teknikal, pola musiman yang disebut Santa Claus rally, serta keyakinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Investment Specialist Ahmad Faris Mu’tashim dari PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) menegaskan peluang tersebut sangat terbuka. Menurutnya, area 9.000 bertepatan dengan Fibonacci 1.618 yang secara teknikal sering menjadi target penguatan lanjutan.

“Proyeksi 9.000 possible (mungkin) untuk tercapai selaras dengan area Fibonacci 1.618,” ujar Ahmad Faris. Ia menambahkan, fenomena musiman seperti Santa Claus rally dan January effect juga akan mendukung pencapaian level tersebut antara Desember tahun ini hingga Januari tahun depan.

Ahmad Faris memproyeksikan pergerakan IHSG dalam sepekan ke depan akan berada pada rentang 8.487-8.622. Jika IHSG mampu menembus dan bertahan di atas 8.622, target kenaikan berikutnya adalah area 8.800, yang merupakan resisten penting berdasarkan Fibonacci 1.272.

Keyakinan serupa juga datang dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam sebuah acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta pada Selasa (28/10/2025), Purbaya bahkan memprediksi IHSG bisa mencapai 32.000 dalam sepuluh tahun ke depan.

“Tahun ini berapa? 9.000. Sepuluh tahun lagi berapa? 32.000. Orang bilang saya bohong sembarang. Tapi itu berasal dari pengalaman 30 tahun terakhir,” ungkap Purbaya. Ia menjelaskan, proyeksinya bukan tanpa dasar, melainkan hasil pengamatan terhadap tren pasar modal dan siklus bisnis yang berulang selama beberapa dekade.

Pada penutupan perdagangan Kamis sore, IHSG melemah 0,65 persen atau 56,26 poin, berakhir di level 8.545,87. Indeks sempat dibuka menguat di posisi 8.611,33, namun tekanan jual terlihat sejak awal perdagangan.

Sepanjang sesi, IHSG bergerak variatif, sempat menyentuh level tertinggi di 8.622,27 sebelum melemah bertahap hingga mencapai titik terendah di 8.521,49.

Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memiliki pandangan yang lebih konservatif. Ia menilai peluang IHSG untuk menguji level 9.000 memang ada, namun kekuatannya belum terlalu besar.

Herditya menjelaskan, secara grafik mingguan, IHSG belum mampu menembus mid-channel dari tren naiknya. Selain itu, volume perdagangan yang cenderung mengecil juga mengindikasikan bahwa momentum penguatan masih terbatas.

“Terdapat peluang untuk uji 9.000, namun kami perkirakan belum begitu besar melihat secara weekly pergerakan IHSG belum mampu break mid channel uptrend dan juga dari sisi volume masih cenderung mengecil,” kata Herditya.

Kedua analis sepakat bahwa IHSG tetap memiliki peluang menguat dalam jangka pendek. Namun, keberlanjutan tren penguatan akan sangat bergantung pada kemampuan indeks menembus level-level teknikal kunci, disertai dukungan volume perdagangan yang memadai.

Data mencatat, 283 saham menguat, sementara 382 saham melemah dan 144 stagnan pada perdagangan tersebut. Aktivitas transaksi tetap tinggi dengan volume perdagangan mencapai 51,41 miliar saham senilai Rp 27,07 triliun. Total kapitalisasi pasar tercatat di kisaran Rp 15.693,89 triliun.

Rekomendasi