Jakarta – PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) melaporkan lonjakan pendapatan yang signifikan sebesar 69,1% secara tahunan menjadi Rp 6,070 miliar pada semester I 2026.
Pertumbuhan pendapatan yang impresif ini terjadi meskipun perusahaan menghadapi tantangan penurunan volume produksi komoditas utama.
Manajemen STAA dalam Investor Buletin, Jumat (31/7/2026), menjelaskan bahwa pencapaian tersebut didorong oleh kontribusi penuh dari operasi kilang perusahaan yang mulai beroperasi sejak paruh kedua tahun lalu.
Di sektor hilir, volume penjualan produk olahan tercatat mencapai 214.247 ton sepanjang semester pertama tahun 2026.
Pihak manajemen menyatakan, “Didukung oleh eksekusi yang disiplin dan kontribusi penuh dari bisnis hilirnya, Perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang kuat sambil mempertahankan profitabilitas yang sehat dan posisi keuangan yang solid.”
Kinerja keuangan perusahaan tetap terjaga dengan laba bersih yang tumbuh 12,3% secara tahunan menjadi Rp 854 miliar.
Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan meningkat 15,3% mencapai Rp 757 miliar.
EBITDA perusahaan juga mencatatkan kenaikan sebesar 13,5% menjadi Rp 1,294 miliar pada periode yang sama.
Namun, margin laba bersih tercatat sebesar 14,1%, menurun jika dibandingkan dengan capaian 21,2% pada semester pertama tahun 2025.
Margin EBITDA juga mengalami penyesuaian menjadi 21,3% dari posisi sebelumnya yang berada di angka 31,7%.
Penurunan margin ini sejalan dengan tantangan operasional di sektor hulu akibat faktor cuaca dan tren musiman.
Perusahaan mencatat produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 478.244 ton atau turun 7,2% secara tahunan.
“Produksi TBS inti menurun 8,1% YoY, sementara produksi TBS plasma meningkat 2,1% YoY,” tulis manajemen dalam Investor Buletin.
Penurunan hasil panen juga terlihat dari produktivitas lahan, di mana hasil panen nukleus turun 11,8% menjadi 10,3 ton per hektar.
Hasil panen plasma tercatat sebesar 8,9 ton per hektar atau turun 5% secara tahunan.
Akibat penurunan pasokan TBS tersebut, total TBS yang diproses perusahaan merosot 18,7% menjadi 810.034 ton.
Kondisi ini berdampak langsung pada produksi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang turun 16,8% menjadi 176.344 ton.
“Sementara, produksi palm kernel (PK) menurun 19,1% YoY menjadi 38.962 ton, sejalan dengan penurunan input TBS,” papar pihak manajemen.
Volume penjualan CPKO juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 19,9% menjadi 22.642 ton.
Perusahaan mencatat harga jual rata-rata CPO setelah dikurangi pajak dan bea ekspor berada di level Rp 14.890 per kilogram.
Harga jual untuk PK tercatat sebesar Rp 13.482 per kg, sedangkan CPKO mencapai Rp 29.462 per kg.
Manajemen menilai lingkungan operasional industri minyak sawit pada paruh pertama 2026 lebih seimbang karena harga CPO telah kembali normal dari level tinggi tahun sebelumnya.






















