Jakarta – PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I-2026.
Perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 446,5 miliar hingga periode 30 Juni 2026.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 51 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pencapaian laba tersebut didorong oleh pendapatan bersih yang menyentuh angka Rp 2,47 triliun.
Secara tahunan, pendapatan perseroan tercatat tumbuh sebesar 29,7 persen.
Khusus pada kuartal II-2026, pendapatan IMPC meningkat 33,9 persen menjadi Rp 1,29 triliun.
Peningkatan profitabilitas juga terlihat dari margin laba bersih yang tumbuh menjadi 18,1 persen secara tahunan.
Kinerja operasional perusahaan turut menunjukkan efisiensi yang ketat.
Laba usaha tercatat sebesar Rp 551 miliar atau tumbuh 43,1 persen dibandingkan semester I-2025.
Sementara itu, EBITDA perusahaan mencapai Rp 654 miliar, naik 38,2 persen secara tahunan.
Direktur Utama Impack Pratama Industri, Haryanto Tjiptodihardjo, mengakui adanya tantangan eksternal yang membayangi operasional perusahaan.
Dinamika pasokan bahan baku dan ketidakpastian geopolitik global menjadi fokus utama manajemen saat ini.
“Eskalasi ketegangan geopolitik yang terjadi belakangan ini menunjukkan ketidakpastian masih menjadi salah satu faktor yang perlu kami cermati,” ujar Haryanto sebagaimana dikutip dari keterangan resmi perusahaan, Jumat (31/7).
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada kelancaran rantai pasok dan proses normalisasi harga bahan baku.
Meski menghadapi tantangan global, manajemen memutuskan untuk merevisi naik target laba bersih tahun 2026.
Perusahaan kini memproyeksikan laba bersih dapat menembus angka di atas Rp 800 miliar.
Sementara itu, target pendapatan tahunan tetap dipertahankan pada angka Rp 5,1 triliun.
“Memasuki semester kedua, kami tetap fokus menjaga kesinambungan operasional dan menjalankan strategi secara disiplin, sembari terus mencermati perkembangan eksternal dan menyesuaikan langkah terhadap dinamika pasar,” tambah Haryanto, Jumat (31/7).
Struktur neraca perusahaan juga terpantau semakin sehat dengan peningkatan kas dan setara kas sebesar 64,2 persen menjadi Rp 479,2 miliar.
Total aset perusahaan hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp 5,32 triliun.
Di sisi lain, perusahaan berhasil menekan total liabilitas sebesar 10,5 persen menjadi Rp 1,91 triliun.
Rasio utang terhadap EBITDA mengalami perbaikan menjadi 0,5 kali dari sebelumnya 1,2 kali pada periode yang sama tahun lalu.
Rasio EBITDA terhadap beban bunga juga menguat signifikan menjadi 28,6 kali dari posisi 10,5 kali sebelumnya.
Kondisi keuangan yang solid ini menjadi modal IMPC dalam menghadapi ketidakpastian pasar di sisa tahun 2026.




















