BEI Dorong Perusahaan Perkuat Tata Kelola Sebelum Melantai di Bursa

persen

Jakarta – Perusahaan yang berencana melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) diminta tidak menunda aksi korporasi mereka meskipun pasar keuangan saat ini sedang diliputi ketidakpastian dan volatilitas tinggi. Kondisi pasar yang menantang justru dianggap sebagai momentum tepat bagi emiten untuk memperkuat fondasi bisnis sebelum benar-benar melantai di bursa.

CEO SW Indonesia, Michell Suharli, menegaskan bahwa kualitas operasional sebuah perusahaan merupakan faktor fundamental yang menentukan keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang. Menurutnya, fluktuasi pasar hanyalah fenomena sementara, sedangkan kualitas bisnis yang solid adalah aset permanen yang akan tetap bernilai di mata investor.

“Tantangan pasar sifatnya sementara, namun kualitas bisnis bersifat permanen. Inilah penentu keberlanjutan perusahaan di masa depan,” ujar Michell melalui keterangan resminya.

Ia menambahkan bahwa proses persiapan IPO seharusnya tidak dipandang sempit sebagai langkah untuk menghimpun dana segar dari masyarakat. Sebaliknya, proses tersebut merupakan fase transformasi perusahaan untuk memperbaiki tata kelola, mematangkan sistem pengendalian internal, serta meningkatkan profesionalisme jajaran manajemen. Dengan persiapan yang matang, perusahaan akan memiliki daya tahan lebih baik dalam menghadapi berbagai dinamika ekonomi.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menekankan bahwa standar tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG) adalah kunci utama untuk menarik minat investor. Vice Director of Listed Company Development BEI, Listyorini Dian Pratiwi, menyatakan bahwa investor saat ini cenderung jauh lebih selektif dalam menempatkan modalnya.

Dian menjelaskan bahwa investor tidak lagi hanya melihat potensi pertumbuhan atau target profitabilitas. Mereka kini memberikan perhatian besar pada bagaimana sebuah perusahaan mengelola risiko dan menjaga transparansi operasional. Perusahaan yang mampu menunjukkan tata kelola kuat akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan pasar dibandingkan mereka yang hanya berfokus pada kinerja keuangan jangka pendek.

Selain aspek tata kelola, fungsi hubungan investor atau investor relations juga memegang peranan krusial. Perusahaan diwajibkan untuk membangun jalur komunikasi yang efektif, transparan, dan tepat waktu kepada publik. Penyampaian informasi yang akurat mengenai pencapaian perusahaan akan meningkatkan kredibilitas emiten dimata para pemegang saham.

Dengan demikian, kesiapan IPO saat ini menuntut perusahaan untuk melampaui sekadar pemenuhan persyaratan administratif pencatatan saham di bursa. Tuntutan akan sistem pelaporan yang transparan dan kemampuan manajemen dalam mengelola risiko secara disiplin menjadi syarat mutlak. Karakteristik ini dinilai menjadi filter alami bagi investor dalam mengambil keputusan investasi di tengah iklim ekonomi yang dinamis.

Strategi transformasi melalui IPO ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis yang lebih sehat dan tahan banting, sehingga perusahaan tidak lagi merasa gentar menghadapi volatilitas pasar yang kerap terjadi di masa depan. Fokus pada penguatan fondasi internal akan menjadi nilai tambah yang membedakan perusahaan berkualitas di mata para investor global maupun domestik.

Rekomendasi