Jakarta – Bank Indonesia (BI) tengah mengakselerasi perluasan jaringan pembayaran lintas negara berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) ke sejumlah wilayah strategis baru.
Langkah ini dilakukan melalui intensifikasi negosiasi dengan otoritas keuangan di India, Arab Saudi, dan Hong Kong.
Perluasan kerja sama ini bertujuan untuk memfasilitasi transaksi pembayaran digital yang lebih efisien dan terintegrasi bagi masyarakat Indonesia maupun warga negara asing.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, mengungkapkan bahwa proses diskusi saat ini masih berjalan secara intensif.
“BI saat ini terus melanjutkan diskusi dengan India untuk kerja sama pembayaran lintas negara. Selain itu, BI sudah memulai diskusi secara lebih mendalam dengan Arab Saudi dan Hong Kong,” kata Filianingsih dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (23/7/2026).
Pihak otoritas moneter menekankan bahwa realisasi integrasi sistem pembayaran ini tidak dilakukan secara terburu-buru.
Setiap tahapan implementasi akan disesuaikan dengan kesiapan regulasi, infrastruktur, keterlibatan industri, hingga koordinasi antar otoritas di masing-masing negara mitra.
“Mudah-mudahan ini bisa segera direalisasikan, karena implementasinya tentu harus memperhatikan kesiapan dari masing-masing negara, baik kesiapan regulasi, infrastruktur, industri, maupun koordinasi dengan otoritasnya,” ujar Filianingsih.
Hingga saat ini, sistem QRIS antarnegara telah beroperasi secara efektif di Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Cina.
Keberadaan sistem ini terbukti memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi transaksi ekonomi lintas batas.
Selama triwulan II 2026, volume transaksi QRIS antarnegara mencatatkan kinerja yang cukup impresif.
Data BI menunjukkan adanya inbound transaksi atau penggunaan QRIS oleh wisatawan asing di Indonesia mencapai Rp 1,85 triliun.
Sementara itu, transaksi outbound atau penggunaan QRIS oleh warga negara Indonesia di luar negeri tercatat sebesar Rp 330 miliar.
Dengan angka tersebut, QRIS antarnegara mencatatkan net inbound sebesar Rp 1,52 triliun.
Menurut Filianingsih, capaian ini menjadi bukti nyata bahwa sistem pembayaran digital buatan Indonesia tersebut semakin diandalkan oleh warga asing yang berkunjung ke Tanah Air.
“Kondisi ini mencerminkan bahwa QRIS antarnegara memang mempermudah transaksi pembayaran lintas-negara,” tegasnya.
Peningkatan penggunaan QRIS ini dinilai berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya dalam mendorong sektor pariwisata dan pemberdayaan UMKM.
Secara makro, ekosistem ekonomi dan keuangan digital Indonesia mencatatkan pertumbuhan solid sepanjang triwulan II 2026.
Volume transaksi pembayaran digital melalui aplikasi mobile dan internet secara kolektif mencapai 16,07 miliar transaksi, atau tumbuh 36,88% secara tahunan (year on year).
Khusus untuk transaksi QRIS, BI mencatat pertumbuhan yang sangat signifikan mencapai 100,12% pada periode yang sama.
Lonjakan tersebut didorong oleh masifnya penambahan jumlah pengguna serta perluasan basis merchant di seluruh pelosok negeri.
Selain QRIS, infrastruktur sistem pembayaran ritel BI-FAST juga menunjukkan performa kuat dengan volume transaksi mencapai 1.529 juta transaksi.
Nilai transaksi yang diproses melalui BI-FAST tercatat mencapai Rp 3.777 triliun.
Sementara itu, untuk transaksi bernilai besar, sistem BI-RTGS mencatatkan volume 2,63 juta transaksi dengan nilai nominal mencapai Rp 53.492 triliun.
Di sisi lain, peredaran uang kartal masyarakat juga terpantau meningkat sebesar 14,03% menjadi Rp 1.315 triliun pada triwulan II 2026.





















