Jakarta – Prospek kinerja keuangan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) diproyeksikan tetap berada dalam tren positif hingga penutupan tahun 2026.
Optimisme ini didorong oleh stabilitas pada bisnis seluler serta akselerasi pertumbuhan pada sektor digital, khususnya pengembangan pusat data atau data center.
Ekspansi bisnis pusat data dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni NeutraDC.
Saat ini, Telkom tercatat memiliki fasilitas pusat data JKT-1 di Cikarang dengan kapasitas desain sebesar 21,5 megawatt (MW).
Data terbaru menunjukkan bahwa kapasitas yang telah beroperasi secara penuh baru mencapai 3,5 MW.
Sementara itu, sisa kapasitas sebesar 18 MW telah selesai dibangun dan seluruhnya sudah dikontrak oleh pelanggan, namun masih menunggu proses penyesuaian penyewa atau tenant customization.
Selain di Cikarang, NeutraDC tengah mengembangkan fasilitas hyperscale di Batam dengan kapasitas 18 MW.
Proyek tersebut ditargetkan siap beroperasi atau ready for service pada tahun 2026 dan telah mendapatkan komitmen kontrak penuh dari Gorilla Technology sebagai penyewa utama.
Di sisi lain, fasilitas pusat data milik perseroan di Singapura dengan kapasitas 17,4 MW dilaporkan telah beroperasi secara penuh.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai bahwa ekspansi pusat data merupakan katalis utama bagi pergerakan saham perusahaan pelat merah tersebut.
“Dengan asumsi tarif sewa hyperscale sekitar US$ 200 ribu/MW/bulan, bisnis data center berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp 1,3 triliun pada tahap awal dan meningkat menjadi Rp 2,1 – Rp 2,2 triliun saat Batam beroperasi penuh,” ujar Sukarno, Selasa (4/8/2026).
Meskipun kontribusi terhadap total pendapatan grup saat ini masih tergolong kecil, bisnis pusat data diyakini mampu menjadi penggerak rerating valuasi TLKM dalam jangka panjang.
Faktor pendukung lainnya mencakup meningkatnya permintaan layanan kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, serta efisiensi dari penggunaan spektrum 700 MHz.
Rencana monetisasi aset digital melalui kemitraan strategis atau penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) NeutraDC juga dipandang sebagai langkah krusial untuk memperkuat fundamental perusahaan.
Namun, analis tetap mewaspadai adanya tantangan kompetisi tarif data yang lebih ketat dari para pesaing di industri telekomunikasi.
“Selain itu, tingginya kebutuhan capex untuk ekspansi data center, perlambatan ekonomi yang dapat memengaruhi permintaan layanan digital, serta kenaikan biaya energi juga menjadi faktor yang perlu dicermati ke depan,” kata Sukarno.
Sepanjang semester I-2026, Telkom telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp 10,8 triliun.
Alokasi dana tersebut difokuskan pada pengembangan area bisnis prioritas, yakni segmen B2C, infrastruktur B2B, dan bisnis internasional.
Dari sisi kinerja keuangan, perseroan mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,9 triliun selama semester I-2026 atau tumbuh 3,9% secara tahunan (year-on-year).
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat mencapai Rp 10,6 triliun, tumbuh 1,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di luar aspek operasional, terdapat tantangan regulasi baru terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 273/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan pada 23 Juli 2026.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa aturan tersebut mewajibkan operator seluler untuk tidak menghanguskan sisa kuota internet pelanggan secara sepihak.
Aturan ini dianggap berpotensi menambah ketidakpastian terhadap model bisnis layanan prabayar perusahaan.
Meski demikian, dengan mempertimbangkan berbagai dinamika pasar tersebut, Sukarno memberikan rekomendasi beli untuk saham TLKM dengan target harga Rp 3.630 per saham.























