Jakarta – Pasar keuangan global mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Sabtu (1/8/2026), akibat sinyal hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed).
Sentimen negatif ini dipicu oleh pernyataan tegas para petinggi bank sentral Amerika Serikat mengenai perlunya kelanjutan kenaikan suku bunga untuk meredam laju inflasi.
Kondisi tersebut secara langsung memicu aksi jual pada instrumen obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang menyebabkan imbal hasil atau yield melonjak tajam.
Yield obligasi tenor 10 tahun tercatat naik sebesar 6,35 basis poin hingga mencapai level 4,727%, angka tertinggi yang tercatat sejak Januari 2025.
Peningkatan serupa juga terjadi pada obligasi tenor 30 tahun yang naik 5,14 basis poin ke posisi 5,2584%, menyentuh titik tertinggi sejak pertengahan 2007.
Kenaikan yield ini mencerminkan kekhawatiran mendalam investor terhadap prospek kebijakan moneter yang lebih ketat dalam jangka menengah.
Pelaku pasar keuangan saat ini mengestimasi probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September mendatang telah menyentuh angka 69%.
Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, menegaskan bahwa pengetatan kebijakan menjadi langkah krusial mengingat pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang masih sangat solid.
Menurut Logan, tanpa langkah antisipatif tersebut, target inflasi sebesar 2% akan sulit dicapai karena tekanan harga di pasar masih tetap tinggi.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pernyataan serupa dari Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, dan Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari.
Dinamika kebijakan moneter ini turut menggerus optimisme di pasar saham yang sebelumnya sempat terangkat oleh laporan kinerja keuangan sektor teknologi.
Meskipun laporan keuangan Amazon dan Microsoft memberikan sentimen positif terkait permintaan layanan cloud dan kecerdasan buatan, reli saham akhirnya tertahan.
“Terjadi koreksi besar sepanjang bulan pada saham-saham bertema AI. Kini, laporan hyperscaler seperti Amazon yang menunjukkan kuatnya permintaan layanan cloud kembali membangkitkan minat investor terhadap tema AI,” ujar Chief Market Strategist B Riley Wealth, Art Hogan, kepada Reuters.
Kondisi bursa saham global pun berakhir bervariasi dengan indeks Dow Jones melemah 0,06% dan S&P 500 turun tipis 0,02%.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite masih mencatatkan penguatan sebesar 0,19% di tengah tekanan pasar yang meningkat.
Di sisi lain, pasar valuta asing masih mencermati pergerakan yen Jepang yang menguat tipis 0,03% setelah intervensi pemerintah setempat.
Bank of Japan (BOJ) diketahui tetap mempertahankan suku bunga namun membuka peluang untuk kenaikan lebih lanjut jika tekanan inflasi domestik terus meningkat.
Namun, efektivitas intervensi tersebut dipertanyakan oleh kalangan analis karena fundamental ekonomi yang dianggap masih rentan.
“Fundamental dan kondisi teknikal yen masih sangat lemah. Intervensi bukan solusi jangka panjang yang kredibel,” kata Analis Senior Portfolio Manager Allspring Global Investments, Lauren van Biljon.
Pasar komoditas pun bereaksi terhadap sentimen global, di mana harga emas spot mengalami penurunan sebesar 1,52% menjadi US$ 4.040,70 per ons.
Sebaliknya, harga minyak mentah justru menunjukkan penguatan di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.























