Jakarta – Filipina menyiapkan dana besar, 20 miliar peso atau setara US$333 juta (sekitar Rp5,62 triliun), untuk memperkuat pasokan bahan bakar nasional. Langkah ini diambil setelah pengumuman status darurat energi.
Kementerian Energi Filipina menyatakan dana tersebut sebagai antisipasi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
“Ini menunjukkan tekad pemerintah melindungi rakyat Filipina dari guncangan pasokan eksternal,” demikian pernyataan resmi kementerian, seperti dikutip Reuters. Pemerintah ingin memastikan ketersediaan bahan bakar yang berkelanjutan, memadai, dan andal di seluruh negeri.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. sebelumnya menetapkan status darurat energi nasional pada Selasa (24/3). Pemicunya adalah meningkatnya risiko konflik di Timur Tengah yang mengancam pasokan energi Filipina.
Marcos menyebut situasi ini sebagai “bahaya yang segera terjadi” terhadap keamanan energi Filipina. Ketidakpastian pasar global dan potensi lonjakan harga minyak dunia menjadi perhatian utama.
Pemerintah membentuk komite khusus untuk memastikan kelancaran distribusi kebutuhan pokok. Bahan bakar, pangan, obat-obatan, hingga produk pertanian menjadi fokus utama.
Marcos menegaskan konflik di Timur Tengah memicu gangguan rantai pasok global dan volatilitas harga energi internasional. Hal ini disampaikan melalui perintah eksekutif yang dibagikan kepada media.
“Deklarasi darurat energi nasional ini memungkinkan pemerintah mengambil langkah responsif dan terkoordinasi,” ujar Marcos, mengutip CNA. Tujuannya adalah menghadapi risiko gangguan pasokan energi global dan dampaknya terhadap ekonomi domestik.
Status darurat ini berlaku selama satu tahun. Pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pengadaan bahan bakar dan produk minyak bumi. Tujuannya menjamin pasokan tetap mencukupi dan tepat waktu.
Pemerintah bahkan dapat melakukan pembayaran sebagian kontrak di muka jika diperlukan.
Menteri Energi Filipina, Sharon Garin, mengungkapkan cadangan bahan bakar negara saat ini hanya cukup untuk sekitar 45 hari. Ini berdasarkan tingkat konsumsi saat ini.
Pemerintah Filipina berupaya mengamankan tambahan pasokan. Mereka menargetkan pembelian sekitar 1 juta barel minyak dari berbagai negara, baik di dalam maupun luar Asia Tenggara. Ini adalah bagian dari upaya memperkuat cadangan energi nasional.






















