Jakarta – PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) resmi tancap gas dalam mengakselerasi ekosistem bisnis berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Langkah strategis ini dijalankan melalui anak usahanya, PT Folago Artificial Intelligence Commerce (FAIC).
Fokus utama ekspansi ini menyasar sektor media commerce dan entertainment yang kini tengah berkembang pesat di pasar domestik.
Perusahaan menargetkan pengintegrasian antara kreator, jenama, dan teknologi mutakhir untuk memperkuat posisi mereka di industri digital.
Data internal menunjukkan perusahaan saat ini telah menaungi lebih dari 250.000 kreator digital di seluruh Indonesia.
Selain itu, terdapat jaringan e-commerce affiliator yang mencapai sekitar 125.000 mitra di berbagai daerah.
Direktur Utama PT Folago Global Nusantara Tbk, Subioto Jingga, menyatakan bahwa perseroan berkomitmen mempercepat kapasitas produksi konten melalui segmen AI Commerce dan AI Entertainment.
“Penggunaan teknologi AI video-generation model akan memperkuat kapasitas produksi kami di segmen AI Micro Drama, AI Movie, dan AI Music,” ujar Subioto dalam keterangan resmi, Jumat (25/9).
Implementasi teknologi ini mencakup pengembangan produk seperti AI TVC dan AI Live Streaming melalui platform KreasiKita.
Inovasi tersebut dirancang untuk memberikan solusi konten yang lebih efisien bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Subioto menekankan bahwa adopsi teknologi AI bagi UMKM merupakan faktor krusial dalam pertumbuhan bisnis perseroan ke depan.
Tujuannya agar pelaku UMKM dapat mengakses teknologi produksi konten berkualitas tinggi dengan biaya yang lebih terjangkau.
Dalam mendukung operasional teknis, FAIC kini mengandalkan model video-generation bernama Dreamina Seedance 2.5.
Teknologi ini diklaim mampu mempercepat alur kerja tim kreatif secara signifikan dibandingkan metode produksi konvensional.
Subioto menjelaskan bahwa Dreamina Seedance 2.5 memiliki kapabilitas teknis yang mumpuni untuk kebutuhan konten durasi pendek.
“Dreamina Seedance 2.5 mampu menghasilkan video berdurasi hingga 30 detik dalam satu kali proses, atau dua kali lebih panjang dibandingkan versi sebelumnya,” ungkap Subioto.
Model ini juga memiliki fleksibilitas tinggi karena mendukung hingga 50 referensi, baik berupa gambar, video, maupun materi pendukung lainnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu memberikan keunggulan kompetitif bagi IRSX dalam menghadapi persaingan konten digital.
Pengembangan bisnis ini mencerminkan tren industri media global yang mulai beralih ke Artificial Intelligence Generated Content (AIGC).
Dengan dukungan infrastruktur teknologi yang ada, perusahaan berupaya menciptakan ekosistem yang lebih produktif bagi para mitra kreator dan pelaku bisnis e-commerce.
Strategi ini sekaligus menjadi langkah antisipatif IRSX dalam menangkap peluang pasar konten yang diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan tingginya penetrasi internet di Indonesia.























