Harga Emas Terkoreksi Usai Reli, Investor Mulai Cermati Inflasi

Ikhwan Setiawan

Harga Emas Terkoreksi Usai Reli, Investor Mulai Cermati Inflasi

Jakarta – Harga emas dunia mengalami tekanan jual pada perdagangan Jumat (21/8) setelah sempat mencatatkan reli signifikan pada sesi sebelumnya.

Koreksi harga ini dipicu oleh aksi ambil untung yang dilakukan para investor di pasar komoditas global.

Harga emas spot tercatat turun 0,8% menjadi US$4.484,95 per ons pada pukul 09.53 waktu setempat.

Penurunan ini terjadi tepat setelah komoditas tersebut menyentuh level tertingginya sejak 2 Juni lalu.

Kontrak emas berjangka Amerika Serikat (AS) juga bergerak melemah tipis sebesar 0,1% ke posisi US$4.439,50 per ons.

Aksi koreksi pasar ini muncul sebagai respon atas lonjakan harga emas yang sempat menembus angka 4% pada Rabu (19/8).

Kala itu, pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi sempat memicu euforia investor setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi berjangka panjang.

“Emas berada di bawah tekanan aksi ambil untung setelah kenaikan kuat pada sesi sebelumnya,” ujar analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Sentimen negatif terhadap emas juga diperkuat oleh rilis risalah rapat Federal Reserve (The Fed) edisi Juli.

Dokumen tersebut mengungkapkan adanya kekhawatiran mendalam dari sejumlah pejabat bank sentral AS terkait tren inflasi yang terus meningkat.

Beberapa pejabat The Fed bahkan menyatakan masih membuka ruang bagi kebijakan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Kondisi tersebut memberikan tekanan psikologis bagi pasar karena emas merupakan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset).

Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, daya tarik emas sebagai instrumen investasi cenderung menurun.

Selain kebijakan moneter, pasar kini mencermati kenaikan harga minyak dunia yang telah mencapai level tertinggi dalam tiga pekan terakhir.

Ketegangan geopolitik akibat kebuntuan pembicaraan terkait konflik Iran menjadi pemicu utama kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada September mendatang berada di angka 67,4%.

Kendati menghadapi tekanan jual dalam jangka pendek, prospek jangka panjang logam mulia ini dinilai masih cukup solid.

Lembaga keuangan Morgan Stanley memproyeksikan harga emas berpotensi menembus level US$5.000 per ons pada 2027 atau bahkan lebih cepat.

Optimisme tersebut didukung oleh aliran dana masuk ke exchange-traded fund (ETF) emas yang stabil.

Selain itu, aksi pembelian emas yang masif oleh berbagai bank sentral dunia turut menjadi penopang harga di pasar global.

Kurva imbal hasil yang semakin curam juga diperkirakan akan terus memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga logam mulia ke depan.

Sementara itu, pergerakan harga logam lainnya di pasar global terpantau bervariasi pada hari ini.

Harga perak spot tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,5% menjadi US$67,28 per ons.

Di sisi lain, harga platinum harus terkoreksi 1,4% ke level US$1.799,70 per ons.

Adapun palladium mencatatkan pelemahan hampir 1% dengan bertengger di posisi US$1.321,50 per ons.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar