Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan lalu dengan penguatan sebesar 0,53% ke level 5.924,36.
Meski berakhir di zona hijau, pelaku pasar diprediksi akan menghadapi fase volatilitas tinggi pada pekan mendatang.
Kondisi ini dipicu oleh perpaduan sentimen global yang belum stabil serta dinamika ekonomi domestik yang masih menahan laju optimisme investor.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pergerakan pasar saham dalam waktu dekat masih akan terjebak dalam pola konsolidasi.
“IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih bergerak sideways dengan kecenderungan volatil di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik,” ujar Hendra, Minggu (12/7/2026).
Faktor eksternal utama yang kini membayangi pasar adalah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan premi risiko, terutama jika jalur pasokan energi global di Selat Hormuz terganggu.
Selain itu, investor sedang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang menjadi indikator kunci arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dari sisi domestik, minimnya likuiditas perdagangan menunjukkan bahwa pelaku pasar belum memiliki keyakinan penuh untuk melakukan ekspansi agresif.
Hendra menambahkan bahwa penguatan yang terjadi saat ini lebih banyak didorong oleh faktor fundamental emiten tertentu.
“Penguatan IHSG cenderung terbatas dan lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang memiliki katalis fundamental,” tuturnya.
Senada dengan pandangan tersebut, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia memprediksi pergerakan indeks akan cenderung sideways-bearish.
Mereka menegaskan bahwa kenaikan pada penutupan pekan lalu sebaiknya dilihat sebagai pembalikan teknikal sementara, bukan tanda pemulihan tren bullish jangka panjang.
“Penguatan IHSG masih lebih tepat dipandang sebagai technical rebound daripada awal bullish reversal,” tegas Tim Riset Kiwoom.
Data teknikal menunjukkan IHSG akan menghadapi area resistance kuat pada rentang 5.950 hingga 5.987.
Jika indeks justru tergelincir ke bawah level 5.900, terdapat potensi pengujian level support di kisaran 5.839 hingga 5.805.
Tekanan terhadap pasar modal Indonesia juga diperparah oleh arus keluar dana asing yang masih terus berlanjut.
Sepanjang tahun berjalan, nilai jual bersih asing atau foreign net sell telah mencapai sekitar Rp90 triliun.
Kondisi ini diperburuk dengan pelemahan nilai tukar rupiah serta rendahnya volume transaksi harian di bursa.
Sentimen negatif lainnya datang dari evaluasi indeks global, di mana MSCI masih mempertahankan pembatasan terhadap bobot saham Indonesia.
Di tengah situasi tersebut, sektor defensif seperti perbankan besar, telekomunikasi, dan barang konsumsi dinilai tetap menjadi pilihan yang paling aman.
Sementara itu, sektor energi diprediksi mampu mencatatkan kinerja unggul seiring dengan kenaikan harga komoditas akibat ketegangan geopolitik.
Hendra merekomendasikan beberapa saham emiten besar dengan target harga, yakni ADRO di Rp2.500, PGEO di Rp1.100, PGAS di Rp1.575, serta TINS di Rp3.750 per saham.
Investor disarankan untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko dan menghindari langkah spekulatif yang terlalu berani.
“Strategi terbaik saat ini adalah selective accumulation, bukan aggressive bottom fishing,” jelas Tim Riset Kiwoom.





















