Jakarta – Keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil memberikan angin segar bagi stabilitas pasar modal domestik.
Langkah ini dinilai mampu meredam kekhawatiran investor terkait risiko makroekonomi yang sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama beberapa bulan terakhir.
S&P menyatakan bahwa tekanan fiskal yang dialami Indonesia saat ini, seperti kenaikan harga energi dan beban utang pascapandemi, hanya bersifat sementara.
Lembaga tersebut tetap meyakini prospek pertumbuhan ekonomi nasional tetap dalam kondisi solid.
Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menyebut bahwa konfirmasi dari S&P serta keputusan MSCI yang tetap menempatkan Indonesia di pasar negara berkembang telah mengurangi beban sentimen negatif terhadap IHSG.
Erindra menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini masih mencerminkan skenario yang terlalu pesimistis.
Saat ini IHSG diperdagangkan pada forward price to earnings (P/E) sebesar 9,1 kali, jauh di bawah rata-rata historis 10 tahun yang berada di angka 14,8 kali.
Menurut perhitungan BRI Danareksa, valuasi tersebut mengindikasikan pasar seolah memperkirakan laba emiten akan terkoreksi 7% pada 2027, padahal proyeksi internal menunjukkan potensi pertumbuhan laba hingga 14%.
Oleh karena itu, BRI Danareksa tetap mematok target IHSG di level 7.200 pada akhir 2026 dengan asumsi pertumbuhan laba per saham sebesar 8%.
Selain valuasi yang murah, tekanan makroekonomi domestik dinilai mulai melandai seiring dengan terkoreksinya harga minyak dunia.
Hal ini memberikan ruang bagi perbaikan neraca perdagangan dan stabilitas rupiah, yang dibuktikan dengan kembalinya minat investor asing ke pasar surat utang.
“Pada Juni 2026, investor asing membukukan net buy Rp 22,4 triliun di pasar surat utang negara, menjadi yang terbesar sejak Mei 2025,” ujar Erindra dikutip dari riset tertanggal Selasa (14/7).
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.
Rully menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi S&P terlalu optimistis di tengah tingginya suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Ia mencatat bahwa ruang bagi pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal sangat terbatas demi menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap PDB.
Mirae Asset Sekuritas cenderung lebih sejalan dengan pandangan Fitch dan Moody’s yang memberikan outlook negatif bagi Indonesia.
“Risiko utama bukanlah hilangnya status investment grade dalam waktu dekat, tetapi pertumbuhan ekonomi yang berpotensi lebih lemah dalam jangka panjang serta meningkatnya premi risiko apabila arah kebijakan tetap tidak jelas,” tulis Rully.
Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa afirmasi S&P memang membantu menurunkan sovereign risk premium.
“Namun, investor asing masih membutuhkan konfirmasi tambahan berupa stabilitas nilai tukar rupiah, perbaikan arus dana asing, serta kepastian arah kebijakan ekonomi,” ujar Liza.
Meski demikian, Liza tetap optimistis IHSG memiliki peluang untuk bergerak menuju rentang 7.000 hingga 7.200 hingga akhir tahun, dengan catatan investor harus tetap selektif dalam memilih instrumen investasi.






















