Wall Street Menguat Seiring Melambatnya Inflasi dan Lonjakan Saham Semikonduktor

New York – Bursa Wall Street mencatatkan penguatan pada perdagangan Selasa (14/7) yang didorong oleh optimisme pasar terhadap melandainya data inflasi Amerika Serikat.

Indeks S&P 500 berhasil naik 0,38% ke level 7.543.

Indeks Nasdaq turut menguat sebesar 0,9% menjadi 26.107,01.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis 9,63 poin atau 0,02% ke level 52.508,27.

Laju Dow Jones sempat tertahan akibat anjloknya saham International Business Machines (IBM) hingga 25%.

Penurunan tajam saham IBM terjadi setelah perusahaan mengeluarkan peringatan bahwa laba kuartal kedua kemungkinan berada di bawah ekspektasi pasar.

Kondisi tersebut dipicu oleh melemahnya permintaan bisnis di sektor perangkat lunak dan infrastruktur perusahaan.

Di sisi lain, sektor semikonduktor menunjukkan pemulihan signifikan setelah sempat mengalami aksi jual pada sesi perdagangan sebelumnya.

ETF VanEck Semiconductor (SMH) mencatat lonjakan sebesar 2,5%.

Saham Applied Materials dan Teradyne masing-masing menguat lebih dari 3%.

Penguatan lebih lanjut terjadi pada saham Lam Research dan Micron Technology yang melesat sekitar 5%.

STMicroelectronics juga mencatatkan kenaikan lebih dari 2% pada penutupan perdagangan.

Sentimen positif utama bagi pasar saham datang dari rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) atau CPI bulan Juni.

Data tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,4% secara bulanan.

Inflasi tahunan tercatat melambat menjadi 3,5%.

Capaian ini lebih rendah dibandingkan survei ekonom dari Dow Jones yang memproyeksikan penurunan bulanan sebesar 0,2% dan inflasi tahunan di level 3,8%.

Meredanya tekanan inflasi ini memberikan dampak langsung terhadap ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.

Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan Juli menurun drastis menjadi 17% dari posisi 42% pada hari sebelumnya.

Namun, pelaku pasar tetap waspada karena probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September masih diperkirakan cukup besar.

Terdapat probabilitas hampir 60% untuk kenaikan sebesar 25 hingga 50 basis poin pada bulan tersebut.

Kepala Investasi Regan Capital, Skyler Weinand, menilai rendahnya data CPI AS menunjukkan bahwa lonjakan inflasi akibat konflik di Iran mulai mereda.

Menurut Weinand, kondisi ini mungkin hanya bersifat sementara karena ketegangan geopolitik kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi ini memberi ruang bagi The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Namun, ia mengingatkan investor agar tidak terlalu optimistis karena pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, sejauh ini masih menunjukkan sikap hawkish.

“Warsh berupaya mengendalikan harga konsumen dan alat terbaik yang dimiliki The Fed saat ini adalah menaikkan suku bunga,” ujar Weinand, dikutip CNBC International, Rabu (15/7).

Sebelumnya, Warsh dalam kesaksiannya di hadapan Kongres AS menyatakan bahwa lonjakan inflasi dalam lima tahun terakhir diperkirakan segera menjadi bagian dari masa lalu.

Pasar komoditas minyak juga mengalami pergerakan fluktuatif setelah Donald Trump membatalkan rencana pengenaan biaya 20% bagi kapal di Selat Hormuz.

Harga minyak mentah AS ditutup naik 1,5% ke atas level US$ 79 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus US$ 80.

Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional turut menguat 1,7% hingga berada di atas US$ 84 per barel.

Di sektor perbankan, saham Goldman Sachs memimpin kenaikan dengan lonjakan 9% berkat laporan laba yang melampaui ekspektasi.

JPMorgan Chase dan Bank of America juga mencatatkan kenaikan saham masing-masing lebih dari 2% dan hampir 2%.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar