New York – Indeks utama Wall Street mencatatkan pelemahan pada perdagangan Jumat (9/10/2026) menyusul lonjakan harga minyak dunia dan ketidakpastian imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat.
Sentimen negatif ini memicu kekhawatiran investor terkait potensi lonjakan inflasi yang dapat mengganggu stabilitas pasar.
Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau melemah 178,5 poin atau 0,35% ke level 51.001,38 sesaat setelah pembukaan.
Indeks S&P 500 turut terkoreksi sebesar 28,9 poin atau 0,37% menjadi 7.772,87.
Nasdaq Composite mengalami tekanan serupa dengan penurunan 135,05 poin atau 0,49% ke posisi 27.403,64.
Pemicu utama gejolak pasar ini adalah kenaikan kontrak berjangka minyak mentah Brent sebesar 4,9% hingga menembus angka US$ 105 per barel.
Lonjakan harga ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait serangan terhadap jalur pelayaran di Teluk dan Selat Hormuz.
Kondisi pasar obligasi turut memperburuk suasana dengan imbal hasil Treasury tenor 10-tahun yang bertahan di level 5,32%.
Angka tersebut tercatat sebagai level tertinggi sejak tahun 2002, yang secara langsung menekan minat investor terhadap aset-aset berisiko.
Saham-saham sektor teknologi berkapitalisasi besar seperti Amazon.com, Tesla, dan Nvidia mengalami pelemahan antara 0,4% hingga 1%.
Sektor produsen cip juga terkena dampak dengan penurunan nilai saham Marvell Technology, AMD, serta Intel sebesar rata-rata 2%.
Sentimen negatif di sektor teknologi diperparah oleh laporan mengenai rencana Broadcom dan Oracle untuk melakukan pendanaan besar bagi OpenAI.
Langkah korporasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa penerbitan utang dalam skala masif akan memperketat persaingan perolehan modal di pasar.
“Kita menghadapi tekanan ganda dari harga energi dan imbal hasil Treasury, serta minimnya data ekonomi baru; pasar cenderung bersikap wait and see terkait laporan kinerja keuangan yang baru akan dimulai secara intensif pekan depan,” ujar Kepala Strategi Pasar di B. Riley Wealth, Art Hogan.
Para pelaku pasar kini menanti laporan kinerja keuangan kuartalan dari perbankan besar, termasuk JPMorgan Chase, yang akan dirilis pekan depan.
Data dari LSEG memproyeksikan indeks S&P 500 secara keseluruhan mampu membukukan kenaikan laba kuartalan hingga 30,6%.
Sektor teknologi dan energi diprediksi menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan laba tersebut.
Sementara itu, arah kebijakan moneter Federal Reserve tetap menjadi perhatian utama di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pejabat The Fed, Christopher Waller, memberikan sinyal mengenai kemungkinan jeda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Meskipun kenaikan suku bunga tambahan masih dianggap perlu untuk menekan inflasi ke target 2%, pihak otoritas moneter menyatakan tetap memiliki fleksibilitas.
Data CME FedWatch menunjukkan konsensus pasar yang memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Oktober, namun peluang kenaikan pada Desember masih tetap terbuka.






















