Indosat Naikkan Capex 77% Usai Menang Lelang Frekuensi demi Ekspansi 5G

Rayhan Akhari

Indosat Naikkan Capex 77% Usai Menang Lelang Frekuensi demi Ekspansi 5G

Jakarta – PT Indosat Tbk (ISAT) memutuskan untuk melakukan revisi besar-besaran terhadap alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sepanjang tahun 2026.

Perusahaan telekomunikasi tersebut menaikkan anggaran investasi sebesar 77% dari rencana semula.

Peningkatan ini menjadikan total belanja modal Indosat tahun ini mencapai Rp 23 triliun, melonjak jauh dari alokasi awal yang sebesar Rp 13 triliun.

Langkah strategis ini diambil menyusul keberhasilan Indosat memenangkan lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada Juli lalu.

Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengungkapkan bahwa tambahan investasi senilai Rp 10 triliun tersebut difokuskan sepenuhnya untuk pengembangan jaringan 5G.

“Kami juga meningkatkan panduan belanja modal (capex). Semula kami mengalokasikan Rp 13 triliun, kini meningkat menjadi Rp 23 triliun,” ujar Vikram dalam konferensi pers paparan kinerja semester I 2026, Rabu (5/8).

Vikram menegaskan bahwa tambahan spektrum ini menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan bisnis perusahaan ke depan.

Pihaknya berkomitmen untuk memastikan manfaat dari penambahan spektrum tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh hampir 100 juta pelanggan.

“Kami sangat disiplin dalam memperoleh spektrum yang memang kami butuhkan, dan kini fokus kami adalah memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh hampir 100 juta pelanggan kami,” tuturnya.

Perusahaan kini menguasai total spektrum sebesar 215 MHz, yang setara dengan 30,2% dari total spektrum seluler nasional.

Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan kepemilikan spektrum sebelumnya yang hanya sebesar 135 MHz.

Keputusan ekspansi infrastruktur ini didukung oleh performa keuangan perusahaan yang solid pada paruh pertama tahun 2026.

Hingga Juni 2026, Indosat membukukan pendapatan sebesar Rp 30,7 triliun, atau tumbuh 13,1% secara tahunan.

Laba periode berjalan perusahaan juga mengalami lonjakan drastis menjadi Rp 4,42 triliun, dibandingkan Rp 2,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja positif tersebut didorong oleh kenaikan trafik data sebesar 19,9% serta peningkatan average revenue per user (ARPU) sebesar 17,3% menjadi Rp 46 ribu.

Direktur dan Chief Legal and Regulatory Officer Indosat, Reski Damayanti, menjelaskan bahwa kombinasi frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz akan memberikan dampak teknis yang krusial bagi jaringan.

“Dengan adanya 700 MHz akan meningkatkan coverage (jangkauan layanan) dan 2,6 GHz akan meningkatkan kapasitas,” kata Reski.

Menurutnya, integrasi kedua spektrum tersebut menjadi kunci dalam perluasan layanan 5G di Indonesia.

Langkah ini juga diproyeksikan membuka peluang monetisasi baru, terutama melalui layanan Fixed Wireless Access (FWA) dan berbagai solusi digital berbasis teknologi generasi kelima.

“Dengan tambahan spektrum yang semakin kuat, kita melihat tidak hanya meningkatkan kapasitas jaringan tapi juga membuka ruang untuk menghadirkan pengalaman digital yang lebih baik kepada para pelanggan kami,” tambah Reski.

Indosat meyakini bahwa penguatan jaringan 5G ini akan memicu lebih banyak inovasi digital di tanah air.

Transformasi digital nasional diharapkan semakin terakselerasi seiring dengan meluasnya cakupan dan kapasitas jaringan yang disediakan perusahaan.

Pihak manajemen menyatakan bahwa pengembangan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat identitas digital pelanggan.

Hingga saat ini, jumlah pelanggan seluler Indosat tercatat stabil di angka 93,4 juta pelanggan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar