Jakarta – Pasar modal Indonesia dinilai memiliki daya tahan yang solid di tengah gejolak ekonomi global yang tidak menentu.
Kekuatan fundamental ekonomi domestik menjadi jangkar utama yang menjaga kepercayaan investor untuk menanamkan modal dalam jangka panjang.
Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 yang menyentuh angka 5,61% menjadi bukti nyata ketangguhan pasar domestik.
Capaian tersebut disokong oleh konsumsi rumah tangga yang tetap stabil, belanja pemerintah yang terukur, serta peningkatan investasi yang signifikan.
Indikator makroekonomi lainnya turut memberikan sentimen positif, seperti aktivitas manufaktur yang terus berada di zona ekspansi.
Surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan pun menjadi faktor pendukung utama stabilitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, koreksi yang sempat terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru membuka peluang bagi investor untuk masuk ke pasar.
Valuasi saham di Indonesia kini menjadi jauh lebih kompetitif bagi para pemegang modal.
Data per 8 Juni 2026 menunjukkan rasio harga terhadap laba atau Price Earnings Ratio (PER) berada di level 12,85 kali.
Terdapat pula 434 saham yang tercatat memiliki Price to Book Value (PBV) di bawah satu kali, memberikan nilai tambah bagi investor fundamental.
Kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menunjukkan performa yang resilien di tengah dinamika pasar.
Sebanyak 595 perusahaan atau 73,46% dari total 810 emiten yang melapor telah mencatatkan laba bersih hingga Maret 2026.
Selain itu, sebanyak 221 perusahaan telah mengumumkan pembagian dividen tunai sepanjang tahun 2026.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menekankan bahwa pasar modal Indonesia saat ini harus dilihat dari perspektif yang komprehensif.
“Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).
Optimisme tersebut didukung oleh lonjakan partisipasi investor domestik yang signifikan.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026 mencatat jumlah investor telah mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID).
Khusus untuk investor saham, jumlahnya mencapai 9,9 juta SID atau meningkat 15,1% dibandingkan akhir tahun 2025.
Peran investor domestik saat ini semakin dominan dalam struktur kepemilikan maupun aktivitas transaksi harian.
Investor domestik kini menguasai 61% kepemilikan saham, sementara investor asing memegang porsi sebesar 39,1%.
Dari sisi transaksi, kontribusi investor domestik mencapai 65,5% terhadap total nilai perdagangan di BEI.
Dominasi ini dinilai mampu menjaga stabilitas pasar saat terjadi volatilitas global.
BEI bersama otoritas terkait terus mempercepat reformasi pasar untuk meningkatkan transparansi dan kualitas informasi.
Kebijakan baru seperti peningkatan free float minimum menjadi 15% dan publikasi kepemilikan saham menjadi bagian dari upaya penguatan pasar.
Langkah-langkah tersebut bertujuan memberikan akses data yang lebih komprehensif bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi.
Jeffrey menegaskan bahwa kombinasi fundamental kuat, kinerja emiten yang baik, serta reformasi sistemik menjadi fondasi kokoh pasar modal Indonesia ke depan.
























