Rupiah Melemah ke Rp15.762 per Dolar AS di Tengah Koreksi Asia

persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan kinerja negatif pada perdagangan pasar spot hari Rabu (17/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah di level Rp 17.762 per dolar Amerika Serikat (AS), terkoreksi 0,21 persen dibandingkan posisi penutupan pada hari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.725 per dolar AS.

Pelemahan rupiah pada sesi perdagangan kali ini mencerminkan tren yang terjadi pada mayoritas mata uang di kawasan Asia. Tekanan eksternal yang kuat terhadap mata uang regional menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah sepanjang hari.

Data pasar menunjukkan bahwa hingga pukul 15.00 WIB, won Korea Selatan memimpin daftar mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia, yakni anjlok sebesar 0,26 persen. Kondisi tersebut diikuti oleh peso Filipina yang mengalami depresiasi sebesar 0,13 persen.

Selain kedua mata uang tersebut, beberapa mata uang lain di Asia juga mencatatkan pelemahan tipis. Baht Thailand tertekan sebesar 0,06 persen, dolar Taiwan terkoreksi 0,02 persen, dan yuan China terdepresiasi sebesar 0,01 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong mencatatkan pelemahan paling moderat, yakni hanya turun tipis sebesar 0,006 persen terhadap mata uang dolar AS atau yang kerap disebut the greenback.

Di sisi lain, tidak semua mata uang di kawasan Asia mengalami tekanan. Beberapa mata uang justru mampu menunjukkan performa positif di tengah sentimen pasar yang beragam. Rupee India mencatatkan penguatan paling signifikan di Asia dengan kenaikan sebesar 0,25 persen.

Penguatan juga terjadi pada yen Jepang yang berhasil terkerek 0,16 persen, disusul oleh ringgit Malaysia yang menguat 0,1 persen. Sementara itu, dolar Singapura mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,02 persen pada penutupan perdagangan sore hari ini.

Kondisi pasar keuangan global saat ini masih dipantau ketat oleh para pelaku pasar. Tekanan pada rupiah yang terjadi di tengah siklus koreksi pasar saham global menuntut para investor untuk lebih cermat dalam menyusun strategi aset. Gejolak nilai tukar yang terjadi saat ini menjadi cerminan dari ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh kebijakan moneter global dan stabilitas ekonomi kawasan.

Analis pasar terus memperhatikan dinamika kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang kerap menjadi katalis utama pergerakan dolar AS. Selama dolar AS tetap berada dalam tren menguat, mata uang di pasar berkembang seperti rupiah diprediksi akan terus menghadapi tantangan volatilitas yang cukup tinggi dalam jangka pendek. Stabilitas fundamental ekonomi domestik diharapkan dapat menjadi penahan agar pelemahan rupiah tidak semakin dalam di tengah sentimen negatif yang menyelimuti pasar regional Asia hari ini.

Rekomendasi