Konflik Timur Tengah Tekan Biaya, Impor Segera Meroket?

persen

pengusaha-mulai-‘sesak-napas’,-harga-barang-impor-terancam-naik
Pengusaha Mulai ‘Sesak Napas’, Harga Barang Impor Terancam Naik

Jakarta – Konflik di Timur Tengah mulai memukul dunia usaha. Kenaikan biaya produksi membayangi, dan harga barang impor berpotensi terkerek naik dalam waktu dekat.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengungkapkan, dampak konflik global sudah terasa pada struktur biaya pelaku usaha.

“Dunia usaha saat ini memang mencermati dengan serius dinamika konflik di Timur Tengah, karena dampaknya mulai terasa pada struktur biaya, meskipun intensitasnya belum merata di semua sektor,” ujar Shinta, Kamis (26/3).

Kenaikan harga energi global, yang tercermin dari lonjakan harga minyak, memberikan tekanan langsung pada biaya produksi.

Gangguan pada jalur logistik global juga menyebabkan peningkatan biaya distribusi serta keterlambatan pengiriman.

Komponen biaya yang paling cepat terdampak adalah energi dan logistik, karena sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik.

Selain itu, bahan baku impor juga mulai mengalami tekanan, terutama pada industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komoditas seperti gula, gandum, dan kedelai, serta bahan penunjang seperti plastik untuk kemasan.

Gangguan pada satu titik rantai pasok global dapat menjalar ke berbagai sektor, mengingat sistem logistik dunia yang saling terhubung.

Pelaku usaha saat ini masih berusaha menahan kenaikan harga, khususnya dalam momentum Ramadan dan menjelang Idulfitri kemarin.

“Hal ini juga sejalan dengan pandangan pelaku industri yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” kata Shinta.

Berbagai langkah mitigasi terus dilakukan pelaku usaha, mulai dari efisiensi operasional hingga penyesuaian rantai pasok. Namun, ruang untuk menahan beban biaya tidak akan bertahan lama jika tekanan berlangsung berkepanjangan.

Senada, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa menyebut dampak kenaikan harga energi global sudah mulai dirasakan luas oleh pelaku usaha.

“Dunia usaha sudah mulai merasakan dampaknya, terutama dari sisi kenaikan biaya energi dan logistik,” kata Erwin.

Kenaikan harga minyak global langsung tercermin pada biaya transportasi, distribusi, serta harga bahan baku berbasis energi. Sektor yang paling cepat terdampak adalah logistik, manufaktur padat energi, perikanan, dan transportasi.

Dampak tersebut terjadi relatif cepat, bahkan dalam hitungan minggu sejak harga minyak global bergejolak.

Sektor yang bergantung pada energi merasakan dampak hampir langsung, sementara sektor lain seperti manufaktur dan ritel mulai terdampak dalam satu hingga dua bulan melalui kenaikan biaya produksi dan tekanan margin.

Dunia usaha menilai diperlukan langkah konkret dari pemerintah untuk meredam tekanan yang terjadi.

“Kami melihat ada beberapa langkah prioritas yang sangat dibutuhkan. Pertama, menjaga stabilitas harga dan ketersediaan energi agar dunia usaha tetap bisa beroperasi dengan kepastian,” jelas Erwin.

Kedua, memastikan subsidi dan kompensasi energi tepat sasaran, terutama untuk sektor produktif.

Ketiga, memperkuat cadangan energi nasional dan diversifikasi sumber impor untuk mengurangi risiko geopolitik. Keempat, memberikan stimulus atau insentif sementara bagi sektor yang paling terdampak.

Dalam jangka menengah, penguatan ketahanan energi juga perlu dilakukan melalui efisiensi energi, pengembangan biofuel, serta transportasi publik.

Seiring tekanan biaya yang terus meningkat, sejumlah barang berpotensi mengalami kenaikan harga lebih awal, terutama produk dengan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor dan biaya distribusi, seperti makanan olahan dan barang konsumsi berbasis impor.

Rekomendasi