Jakarta – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menunjukkan efisiensi operasional yang signifikan di tengah penurunan volume pendapatan pada semester I 2026.
Perusahaan pelat merah ini berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih meski pendapatan usaha mengalami kontraksi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 22 Juli 2026, pendapatan usaha ADHI tercatat sebesar Rp 3,11 triliun hingga Juni 2026.
Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 18,35% dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,81 triliun.
Kinerja pendapatan tersebut ditopang oleh beberapa lini bisnis utama perseroan.
Segmen teknik dan konstruksi menjadi kontributor terbesar dengan perolehan Rp 2,65 triliun.
Selain itu, segmen manufaktur menyumbang pendapatan sebesar Rp 166,46 miliar.
Segmen properti dan pelayanan mencatatkan kontribusi sebesar Rp 154,84 miliar.
Sementara itu, segmen investasi dan konsesi menyumbang pendapatan senilai Rp 138,43 miliar.
Meskipun pendapatan mengalami koreksi, efisiensi yang dilakukan perseroan pada beban pokok pendapatan terbukti mampu mengompensasi penurunan tersebut.
Beban pokok pendapatan berhasil ditekan menjadi Rp 2,4 triliun per 30 Juni 2026, turun signifikan dari Rp 3,23 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Langkah efisiensi ini berdampak langsung pada penguatan laba bruto perusahaan.
Laba bruto ADHI tercatat naik 22,26% secara tahunan (year on year) menjadi Rp 700,42 miliar dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka Rp 572,87 miliar.
Peningkatan profitabilitas juga terlihat pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Laba bersih ADHI mencapai Rp 8,49 miliar pada akhir Juni 2026, tumbuh 12,56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan kenaikan tersebut, laba per saham dasar perseroan juga meningkat menjadi Rp 1,01 dari sebelumnya Rp 0,90.
Dari sisi neraca keuangan, total aset perusahaan per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 27,52 triliun.
Angka ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan posisi aset per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp 28,79 triliun.
Jumlah liabilitas perseroan turut mengalami penurunan menjadi Rp 24,21 triliun pada akhir Juni 2026 dari posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp 25,49 triliun.
Di sisi lain, jumlah ekuitas ADHI tercatat mengalami kenaikan tipis menjadi Rp 3,31 triliun per akhir Juni 2026.
Sebelumnya, pada penutupan tahun 2025, ekuitas perseroan berada di posisi Rp 3,29 triliun.
Perseroan juga melaporkan posisi kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp 813,09 miliar pada Juni 2026.
Nilai tersebut mengalami penurunan dibandingkan posisi kas pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,47 triliun.























