Jakarta – PT Indosat Tbk (ISAT) mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan sebesar 84,5% selama semester pertama tahun 2026.
Perusahaan telekomunikasi ini berhasil membukukan laba bersih senilai Rp4,3 triliun hingga akhir Juni 2026.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan perolehan laba pada periode yang sama tahun lalu yang berada di posisi Rp2,34 triliun.
Pencapaian finansial ini tertuang dalam laporan keuangan resmi yang dipublikasikan pada Selasa (28/7/2026).
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan konsolidasian perseroan yang naik 13,1% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Total pendapatan Indosat tercatat mencapai Rp30,65 triliun, meningkat dari angka Rp27,11 triliun pada semester pertama tahun 2025.
Segmen bisnis seluler masih mendominasi struktur pendapatan perusahaan dengan kontribusi sebesar 83,3%.
Bisnis multimedia, komunikasi data, dan internet (MIDI) menyumbang porsi sebesar 15,3% terhadap total pendapatan.
Sisanya, sebesar 1,4% pendapatan berasal dari segmen telekomunikasi lainnya.
Pendapatan dari segmen seluler mengalami pertumbuhan sebesar 12,2% yang ditopang kuat oleh layanan data dan jasa nilai tambah.
Meskipun layanan data tumbuh positif, segmen ini masih menghadapi tantangan berupa penurunan pendapatan dari layanan telepon tradisional, SMS, dan interkoneksi.
Di sisi lain, segmen MIDI menunjukkan performa impresif dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 18,5%.
Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan masif pada layanan IT, konektivitas tetap, dan internet tetap.
Segmen telekomunikasi juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,4% berkat peningkatan pada layanan telepon internasional.
Kendati demikian, segmen ini masih tertekan oleh penurunan performa pada bisnis telepon jaringan tetap.
Dari sisi efisiensi operasional, EBITDA perseroan tercatat mencapai Rp14,6 triliun.
Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 13,6% secara tahunan dengan margin EBITDA yang terjaga di level 47,6%.
Di balik capaian tersebut, beban usaha perusahaan mengalami peningkatan menjadi Rp22,9 triliun atau naik 4,5% dibandingkan tahun lalu.
Kenaikan beban ini dipicu oleh tingginya biaya penyelenggaraan jasa serta penyusutan dan amortisasi.
Biaya karyawan, biaya pemasaran, serta beban umum dan administrasi juga turut berkontribusi pada membengkaknya beban operasional perusahaan.
Sementara itu, beban lain-lain tercatat naik tipis sebesar 1,2% menjadi Rp2,1 triliun.
Kenaikan biaya keuangan tersebut diimbangi dengan perbaikan pada selisih kurs serta pendapatan bunga yang diterima perusahaan.
Manajemen Indosat terus mengupayakan optimalisasi di seluruh lini bisnis untuk menjaga tren positif profitabilitas hingga akhir tahun.
Kinerja solid ini menempatkan Indosat sebagai salah satu pemain utama yang mampu mempertahankan daya saing di tengah ketatnya persaingan industri telekomunikasi nasional.






















