Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp10,6 triliun sepanjang semester pertama tahun 2026.
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kinerja positif perusahaan ini didorong oleh penguatan fundamental bisnis, terutama pada sektor layanan seluler yang dikelola oleh entitas anak, Telkomsel.
Hingga penutupan Juni 2026, total pendapatan konsolidasi perseroan menyentuh angka Rp75,9 triliun.
Perolehan pendapatan tersebut mencerminkan pertumbuhan tahunan atau year-on-year (YoY) sebesar 3,9 persen.
Selain pendapatan, EBITDA perusahaan juga mencatatkan kenaikan sebesar 3,8 persen menjadi Rp37,5 triliun.
Sementara itu, laba bersih yang telah dinormalisasi mencapai Rp11,3 triliun, tumbuh 6,2 persen secara tahunan.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyatakan bahwa hasil ini merupakan buah dari strategi transformasi digital yang konsisten diterapkan oleh perusahaan.
Efisiensi operasional dan pemulihan pada layanan seluler menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas kinerja di tengah tantangan industri telekomunikasi yang dinamis.
“Pencapaian tersebut semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia,” ungkap Dian melalui keterangan tertulis yang dirilis pada Sabtu (1/8).
Pada segmen bisnis Business-to-Consumer (B2C), Telkomsel berhasil mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 3,3 persen menjadi Rp55,6 triliun.
Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan pendapatan dari bisnis data digital sebesar 11 persen.
Selain itu, Average Revenue Per User (ARPU) untuk layanan seluler meningkat 9 persen menjadi Rp45.600.
Peningkatan konsumsi data masyarakat selama periode libur sekolah dan perhelatan Piala Dunia 2026 turut berkontribusi terhadap kenaikan payload data perusahaan.
Di sisi lain, segmen fixed broadband IndiHome mencatatkan penyesuaian jumlah pelanggan menjadi 9,5 juta dari posisi sebelumnya 10,1 juta pada semester I 2025.
Meskipun jumlah pelanggan menurun, perseroan berhasil meningkatkan ARPU IndiHome sebesar 3,4 persen secara kuartalan menjadi Rp211.000.
Rasio konvergensi layanan juga tercatat meningkat hingga mencapai angka 65 persen.
Strategi ini dilakukan untuk membangun basis pelanggan yang lebih berkualitas serta meningkatkan efektivitas monetisasi layanan, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi perseroan.
Sektor Business-to-Business (B2B) Infrastructure juga menunjukkan performa impresif dengan kenaikan pendapatan 19 persen menjadi Rp33,1 triliun.
Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan pendapatan pada layanan data, internet, dan layanan teknologi informasi.
Bisnis menara telekomunikasi yang dijalankan oleh Mitratel turut menyumbang pendapatan sebesar Rp4,7 triliun atau tumbuh 2,1 persen secara tahunan.
Ke depan, Telkom berencana memperkuat NeutraDC guna merespons permintaan yang terus meningkat terhadap infrastruktur data center.
Langkah strategis ini bertujuan untuk memperluas layanan, optimalisasi aset, serta memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis dalam jangka panjang.






















