Menteri Singapura Jelaskan Nasib Kesepakatan Ekspor Listrik dengan RI

Rayhan Akhari

Menteri Singapura Jelaskan Nasib Kesepakatan Ekspor Listrik dengan RI

Singapura – Pemerintah Singapura menegaskan bahwa implementasi proyek ekspor listrik dari Indonesia ke negaranya masih memerlukan pemenuhan prinsip komersial yang ketat sebagai dasar perdagangan lintas batas.

Menteri Negara Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Siow Huang, menyatakan bahwa realisasi jual beli listrik ini sangat dinantikan oleh pihaknya.

Kedua negara saat ini masih terus merumuskan aspek regulasi, teknis, hingga mekanisme penentuan harga yang paling efisien.

“Perusahaan-perusahaan Singapura yang bersedia membeli listrik hijau, mereka akan membandingkan harga dengan alternatif yang dapat mereka peroleh untuk memenuhi target emisi,” ujar Gan seperti dikutip dari catatan pertemuan di Singapura, Senin (20/7/2026).

Pemerintah Singapura sejauh ini telah memberikan lisensi bersyarat kepada tujuh perusahaan Indonesia.

Total kapasitas yang disetujui mencapai sekitar 3,4 gigawatt (GW).

Namun, implementasi di lapangan tidak akan langsung dilakukan dalam kapasitas penuh.

Proyek akan dimulai dengan skala awal sekitar 600 megawatt (MW).

“Kami bisa memulai dari skala yang lebih kecil, belajar dari proses tersebut, kemudian menarik lebih banyak investor,” kata Gan.

Keberhasilan kerja sama ini diharapkan mampu menjadi katalis bagi pengembangan perdagangan listrik di Asia Tenggara.

Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk tidak hanya menyuplai listrik ke Singapura, tetapi juga ke negara lain melalui jaringan interkoneksi regional.

Gan menekankan pentingnya penyelarasan kebijakan antarnegara di kawasan untuk kelancaran proyek ini.

“Yang diperlukan adalah menyelaraskan kebijakan dan komitmen politik di antara negara-negara di kawasan,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki peluang menjadi pemimpin dalam kebijakan dan infrastruktur energi terbarukan.

“Anda (Indonesia) memiliki banyak potensi energi terbarukan serta dapat menjadi pemimpin dalam membentuk kebijakan, infrastruktur, dan kerangka kerja untuk perdagangan energi terbarukan,” kata Gan.

Sementara itu, dari pihak Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa pembahasan harga masih terus berlangsung.

Pemerintah Indonesia menargetkan kesepakatan yang adil bagi kedua belah pihak.

“Kami ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu,” ujar Bahlil dalam pernyataan resmi, Selasa (7/7/2026).

Kawasan industri hijau di Batam, Bintan, dan Karimun dikabarkan sudah hampir final untuk menjadi basis pasokan listrik ke Singapura.

Pemerintah Indonesia selanjutnya akan memfokuskan pembangunan infrastruktur transmisi di wilayah Kepulauan Riau.

Proyek ini menjadi bagian dari 26 kerja sama strategis yang disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Fokus utama kerja sama ini meliputi penyusunan peta jalan perdagangan listrik lintas batas.

Selain itu, terdapat kolaborasi antara Danantara dengan Singapore Energy Interconnections untuk mempercepat pembangunan jaringan kabel bawah laut.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar