Jakarta – Aktivitas pasar modal Indonesia kembali bergairah memasuki periode awal Juli 2026.
Sebanyak tiga perusahaan resmi memulai masa penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) pada Rabu, 1 Juli 2026.
Ketiga calon emiten tersebut adalah PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Niramas Utama Tbk (JELI).
Masa penawaran umum bagi ketiga perusahaan ini dijadwalkan berlangsung hingga Jumat, 3 Juli 2026, sebelum nantinya resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia.
PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), pengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics, menetapkan harga penawaran sebesar Rp1.250 per saham.
Perseroan melepas sebanyak 487,98 juta saham baru atau setara 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor.
Selain itu, terdapat divestasi saham milik DR. Dr. Waldenius Girsang, SpM(K) sebanyak 162,88 juta lembar.
Total nilai transaksi IPO JECX diperkirakan mencapai Rp609,97 miliar, dengan alokasi dana untuk pelunasan pinjaman perbankan serta suntikan modal ke entitas anak.
Pada sektor kesehatan lainnya, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) menawarkan 522,90 juta saham baru dengan harga Rp120 per lembar.
Aksi korporasi ini menargetkan perolehan dana sekitar Rp62,74 miliar yang akan digunakan untuk pelunasan fasilitas kredit, belanja modal, serta modal kerja.
Saham PRDL dijadwalkan mulai diperdagangkan di bursa pada 9 Juli 2026.
Sementara itu, PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman merek INACO, menetapkan harga IPO di angka Rp900 per saham.
Perusahaan menawarkan maksimal 266 juta saham melalui sistem e-IPO.
Alokasi dana hasil IPO akan difokuskan untuk peningkatan kapasitas produksi gummy candy dan jelly, pembelian mesin, pembayaran utang, serta modal kerja operasional.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai afiliasi konglomerat menjadi faktor pembeda di tengah volatilitas pasar.
JECX dinilai memiliki keunggulan melalui dukungan Grup Emtek yang memberikan kredibilitas tata kelola perusahaan.
Untuk PRDL, daya tarik utama terletak pada fundamental bisnis yang defensif serta rekam jejak merek yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia.
Berbeda dengan keduanya, saham JELI dipandang cenderung memiliki profil yang lebih spekulatif bagi para investor.
Wafi menyarankan investor untuk memprioritaskan emiten dengan fundamental yang jelas serta harga yang konservatif.
Ia menekankan bahwa durasi investasi ideal pada saham IPO minimal berkisar antara 6 hingga 12 bulan demi mengoptimalkan potensi keuntungan.
Investor juga diingatkan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan saat hari pertama pencatatan.
“Investor yang masuk ke saham IPO pasca listing masih dimungkinkan dan bahkan lebih aman karena price action hari pertama dapat menjadi indikator permintaan yang asli,” ungkap Wafi pada Kamis, 25 Juni 2026.
Apabila harga saham justru terkoreksi pasca pencatatan namun fundamental perusahaan tetap kokoh, hal tersebut dapat dipandang sebagai peluang untuk mengakumulasi kembali.





















