Pasar Domestik Libur, Rupiah Spot Melemah Tipis ke Rp 17.723

Ikhwan Setiawan

Pasar Domestik Libur, Rupiah Spot Melemah Tipis ke Rp 17.723

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah tipis pada perdagangan Selasa (25/8/2026), melanjutkan tren negatif selama dua hari berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah sebesar 0,03 persen ke posisi Rp 17.723 per dolar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.721 per dolar AS.

Pergerakan terbatas ini terjadi di tengah kondisi pasar domestik yang sedang menjalani libur nasional.

Sentimen penguatan dolar AS secara global menjadi faktor utama yang menekan mata uang regional, termasuk rupiah.

Indeks dolar AS yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat naik 0,1 persen ke level 99,07.

Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif dolar AS setelah pada sesi sebelumnya mencatatkan penguatan sebesar 0,16 persen.

Data pasar menunjukkan bahwa dolar AS saat ini perlahan menjauh dari level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Di sisi domestik, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar.

Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Selain itu, suku bunga Lending Facility tetap di angka 6,50 persen dan Deposit Facility sebesar 4,75 persen.

Langkah tersebut menandai kebijakan penahanan suku bunga yang dilakukan oleh bank sentral untuk kedua kalinya secara beruntun.

“Kebijakan ini menunjukkan pergeseran fokus BI menuju langkah moneter yang lebih terarah, dibandingkan kembali menaikkan suku bunga,” ungkap tim riset BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan mingguan mereka.

Dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus memperkuat insentif valuta asing bagi pasar domestik.

Bank sentral juga menawarkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang kompetitif untuk menarik aliran dana asing masuk ke Indonesia.

Di sektor makroprudensial, BI tetap fokus pada dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Bank sentral memberikan insentif likuiditas guna memperbaiki transmisi kebijakan moneter dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar.

Langkah ini diharapkan mampu mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit lebih optimal ke sektor-sektor prioritas.

Terkait inflasi, BI berkomitmen menjaga stabilitas harga melalui koordinasi ketat dengan pemerintah pusat.

Fokus utama diarahkan pada penguatan pasokan pangan untuk menekan inflasi dari komponen harga bergejolak.

Hal ini menjadi krusial mengingat adanya risiko gangguan pasokan akibat fenomena El Niño yang berpotensi memengaruhi harga pangan nasional.

Sementara itu, dinamika mata uang di pasar valuta asing Asia cenderung bergerak terbatas pada periode yang sama.

Mengutip laporan Reuters, baht Thailand terpantau melemah ke level 32,74 per dolar AS, sementara peso Filipina berada dalam posisi relatif datar.

Pasar saat ini menanti keputusan bank sentral Thailand yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada Rabu (26/8/2026).

Di sisi lain, bank sentral Korea Selatan dan Filipina diprediksi akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Won Korea Selatan sendiri tercatat sedikit melemah dari posisi tertingginya dalam hampir satu tahun terakhir di level 1.378,9 per dolar AS.

Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada dinamika dolar AS di pasar global serta arah kebijakan bank sentral dunia.

Upaya Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar tetap menjadi katalis penting bagi pergerakan mata uang domestik di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar