Dampak Gempa NTT: Siswa Terpaksa Belajar di Tenda Darurat

persen

Dampak Gempa NTT: Siswa Terpaksa Belajar di Tenda Darurat

Nagekeo – Dampak kerusakan infrastruktur pendidikan akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 lalu masih menyisakan tantangan besar bagi ratusan siswa di Nusa Tenggara Timur. Hingga Rabu (26/8), aktivitas belajar-mengajar di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Rowa, Kabupaten Nagekeo, dan SD Inpres Ngelapadhi, Kabupaten Ngada, masih terpaksa dilakukan di posko-posko darurat.

Kondisi ruang kelas di SDK Rowa dilaporkan mengalami kerusakan struktural yang cukup parah, ditandai dengan retakan besar yang membelah dinding dari langit-langit hingga lantai. Wakil Kepala SDK Rowa, Hendrika Wolo Kile, menyatakan bahwa bangunan sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1976 tersebut kini tidak lagi aman untuk digunakan.

“Selama beberapa hari kami belajar di empat posko di lingkungan masing-masing. Saat ini, ruangan kelas kami rusak berat. Kami tidak bisa menggunakannya untuk kegiatan aktivitas belajar-mengajar,” ujar Hendrika saat ditemui, sebagaimana dikutip dari laporan lapangan tertanggal 24 Agustus 2026.

Hendrika menambahkan, bangunan tersebut sebenarnya telah melalui beberapa kali rehabilitasi, termasuk pada Januari lalu. Namun, usia bangunan yang lanjut dan guncangan gempa yang berpusat di laut 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, membuat struktur sekolah tersebut tidak mampu bertahan. Beruntung, gempa yang terjadi pukul 06.00 pagi tidak menimbulkan korban jiwa di kalangan siswa karena mereka belum tiba di sekolah.

Situasi serupa terjadi di SD Inpres Ngelapadhi, Kabupaten Ngada. Kepala Sekolah Monika Duy mencatat kerusakan meliputi enam ruang kelas, kantor guru, hingga laboratorium. Sebanyak 117 siswa di sekolah tersebut kini harus menumpang di tenda darurat yang didirikan di lapangan sekolah demi keberlangsungan pendidikan.

Merespons kondisi tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti telah meninjau langsung lokasi terdampak pada Senin (24/8). Pihak kementerian berkomitmen melakukan revitalisasi bangunan sekolah yang rusak dengan terlebih dahulu melakukan verifikasi dan validasi kondisi lapangan bersama dinas pendidikan setempat.

“Sekolah ini sudah selesai revitalisasi nanti diajukan lagi yang baru yang masih dalam proses pengerjaan yang dapat revitalisasi 2026,” ujar Abdul Mu’ti sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi kementerian.

Pemerintah juga telah menyiapkan alokasi anggaran melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahun 2026. Bantuan yang disalurkan mencakup voucher rehabilitasi senilai Rp15 juta untuk sekolah dengan kerusakan berat dan Rp10 juta untuk kerusakan ringan. Selain bantuan fisik, kementerian juga menyalurkan ribuan paket perlengkapan sekolah, buku, serta menerjunkan tim pendamping psikososial untuk memulihkan trauma siswa.

Hingga saat ini, 155 siswa SDK Rowa dan 117 siswa SD Inpres Ngelapadhi masih menantikan perbaikan gedung agar dapat kembali belajar di ruang kelas yang layak. Sembari menunggu proses pemulihan, kegiatan akademik tetap berjalan di tenda-tenda darurat yang sekaligus berfungsi sebagai tempat perlindungan warga terdampak.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar