Rupiah Melemah ke Rp 17.723, Simak Proyeksi Pergerakan Hari Ini

Rayhan Akhari

Rupiah Melemah ke Rp 17.723, Simak Proyeksi Pergerakan Hari Ini

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan terbatas pada perdagangan pasar spot Selasa (25/8/2026).

Mata uang Garuda ditutup melemah tipis sebesar 0,03 persen ke level Rp 17.723 per dolar AS.

Posisi ini sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan pada Senin (24/8/2026) yang berada di level Rp 17.721 per dolar AS.

Kondisi pasar domestik yang sedang dalam masa libur nasional tidak menghalangi pergerakan nilai tukar di pasar global.

Penguatan dolar AS secara luas menjadi faktor utama di balik koreksi rupiah tersebut.

Sentimen risk-off yang kian menguat di pasar keuangan global turut memicu perpindahan modal ke aset-aset yang dianggap lebih aman.

Pemicu utama gejolak pasar ini adalah meningkatnya ketidakpastian terkait kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang rebound di tengah sentimen risk-off global akibat meningkatnya ketidakpastian terkait dampak Economic D-Day yang diserukan AS,” ujar Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong, Senin (24/8/2026).

Ketidakpastian ini berakar pada potensi sanksi tegas yang akan diberlakukan oleh otoritas Amerika Serikat.

Sanksi tersebut menyasar negara pihak ketiga, lembaga perbankan asing, hingga perusahaan komersial global.

Target spesifik dari kebijakan ini adalah pihak-pihak yang memberikan dukungan ekonomi krusial kepada Iran.

Langkah ini memaksa investor untuk bersikap lebih konservatif dalam menempatkan portofolio investasinya.

Permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven pun meningkat secara signifikan.

Dampaknya, mata uang di pasar negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan jual yang konsisten.

Memasuki perdagangan hari ini, Rabu (26/8/2026), fokus pelaku pasar masih tertuju pada dinamika geopolitik terkait Iran.

Selain itu, para pelaku pasar sedang menanti rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat.

Data yang paling dinanti adalah Personal Consumption Expenditures (PCE).

Indikator ini merupakan acuan utama bagi bank sentral AS, The Federal Reserve, dalam merumuskan kebijakan suku bunga.

Pasar juga akan memantau revisi kedua data Produk Domestik Bruto (PDB) AS.

Publikasi data tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam.

“Pasar masih akan mencermati perkembangan sanksi AS dan data ekonomi AS,” tambah Lukman Leong, Senin (24/8/2026).

Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental tersebut, proyeksi pergerakan rupiah untuk hari ini masih berada dalam rentang konsolidasi.

Nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.800 per dolar AS.

Para pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas yang mungkin muncul akibat rilis data ekonomi AS nanti.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar