Jakarta – PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) menghadapi tantangan berat dalam memperbaiki profitabilitas sepanjang semester II-2026.
Meskipun pendapatan perusahaan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, beban operasional dan keuangan yang membengkak akibat ekspansi besar-besaran diprediksi akan menghambat pemulihan laba bersih hingga akhir tahun.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa kenaikan beban umum dan administrasi SRAJ saat ini tumbuh jauh melampaui laju pendapatan perusahaan.
“Rugi bersih naik hampir empat kali menunjukkan magnitude cost pressure lebih besar dari antisipasi,” ujar Wafi sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Selasa (25/8/2026).
Sepanjang semester I-2026, SRAJ sebenarnya berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,6% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 1,30 triliun.
Namun, pencapaian tersebut tergerus oleh lonjakan beban umum dan administrasi sebesar 22,30% yang mencapai Rp 504,58 miliar.
Akibatnya, perusahaan harus membukukan rugi bersih sebesar Rp 244,68 miliar, meningkat tajam dibandingkan rugi Rp 65,55 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Wafi, ruang untuk melakukan efisiensi dalam waktu dekat sangat terbatas karena fasilitas-fasilitas baru milik perusahaan masih dalam tahap pengembangan awal atau ramp-up.
Biasanya, fasilitas rumah sakit baru memerlukan waktu sekitar 18 hingga 36 bulan untuk mencapai tingkat utilisasi yang optimal.
Selama periode tersebut, perusahaan tetap harus menanggung biaya operasional dan investasi yang tinggi sebelum kontribusi pendapatan mencapai skala yang diharapkan.
“Cost structure kemungkinan tetap membebani hingga pendapatan benar-benar meningkat,” tambah Wafi.
Pandangan senada disampaikan oleh Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, yang menyoroti dampak ekspansi RS Mayapada Cakung dan MEC Sudirman.
Abida menilai bahwa kenaikan biaya tersebut bersifat struktural sehingga sulit untuk ditekan dalam jangka pendek.
“Ekspansi besar ini berpotensi meningkatkan utang dan terus menekan margin dalam jangka pendek,” jelas Abida.
Manajemen SRAJ sendiri telah menargetkan pertumbuhan pendapatan di kisaran 10% hingga 15% pada tahun 2026 dengan dukungan belanja modal mencapai Rp 1,5 triliun.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menambahkan bahwa tekanan profitabilitas juga diperparah oleh tingginya beban payroll, biaya profesional, serta beban bunga.
Kevin memprediksi pemulihan kinerja akan berlangsung secara bertahap karena beban bunga dan depresiasi masih menjadi beban berat bagi arus kas perusahaan.
Meski demikian, terdapat beberapa katalis positif yang diharapkan dapat menopang kinerja SRAJ di masa depan, seperti penyelesaian Tower 3 yang ditargetkan rampung pada Oktober 2026.
Selain itu, peningkatan utilisasi rumah sakit yang sudah beroperasi serta perbaikan layanan dengan kompleksitas tinggi dipandang sebagai faktor pendukung jangka panjang.
Wafi menyimpulkan bahwa pemulihan profitabilitas yang lebih signifikan bagi SRAJ kemungkinan baru akan terlihat pada tahun 2027 mendatang.
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan akan menyesuaikan ekspektasi kinerja seiring dengan memburuknya laba bersih di semester I-2026.
Secara teknikal, saham SRAJ dinilai memiliki potensi koreksi menuju level support Rp 13.850 per saham sebelum berpeluang kembali menguji level resistance di Rp 15.000 per saham.






















