Jakarta – Pasar aset kripto global menunjukkan resiliensi yang signifikan di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan volatilitas harga minyak mentah dunia.
Bitcoin (BTC) diproyeksikan tetap berada dalam tren penguatan hingga penutupan tahun 2026, didorong oleh perannya sebagai aset pelindung nilai di tengah ancaman inflasi.
Data Coin Market Cap per Selasa (21/7/2026) mencatat harga Bitcoin berada di level US$ 66.347.
Angka tersebut merefleksikan kenaikan sebesar 6,08% dalam sepekan terakhir dan penguatan 3,28% selama satu bulan ke belakang.
Analis Reku, Andri Fauzan, menilai pergerakan harga saat ini menandakan fase konsolidasi yang sehat.
Koreksi yang sempat terjadi di awal tahun 2026 kini telah berhasil dipulihkan oleh pasar.
“Sinyal kuat bahwa cycle low mungkin sudah terbentuk di area US$ 59.000 – US$ 64.800,” ujar Andri sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Selasa (21/7/2026).
Secara teknikal, Bitcoin telah mencatatkan level tertinggi dalam sebulan terakhir dengan pola ascending triangle.
Aset kripto utama ini juga mampu mempertahankan posisinya di atas 50-day moving average yang berada di kisaran US$ 65.400.
Andri menambahkan bahwa kenaikan harga minyak mentah global justru memperkuat narasi Bitcoin sebagai digital gold.
Gangguan suplai melalui Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak Brent mencapai US$ 120 per barel.
Kondisi tersebut akan memicu tekanan inflasi global yang nantinya mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset alternatif.
Proyeksi optimis menempatkan harga Bitcoin di rentang US$ 80.000 hingga US$ 100.000 pada akhir 2026.
Optimisme ini didukung oleh tiga faktor utama, yakni arus masuk dana ETF Bitcoin yang konsisten serta adopsi institusi keuangan yang meluas.
Selain itu, level 200-day moving average di kisaran US$ 71.000 diprediksi menjadi titik support kuat jika harga berhasil menembus level tersebut.
Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto lain dikategorikan memiliki prospek menarik, terutama Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan XRP.
Token bertema Real World Assets (RWA) dan perpetual decentralized exchange (Perp DEX) seperti ONDO serta HYPE juga dipandang potensial.
Ethereum dan Solana tetap menjadi pilihan utama bagi investor institusi karena ekosistem DeFi yang matang dan kapasitas transaksi yang efisien.
Sementara itu, XRP mendapat momentum dari meningkatnya kebutuhan sistem pembayaran lintas negara secara global.
Tren tokenisasi aset, termasuk uji coba produksi tokenisasi saham Russell 1000 oleh DTCC pada Juli 2026, turut memberikan sentimen positif bagi ONDO dan HYPE.
Bagi investor ritel, strategi investasi bertahap atau dollar-cost averaging (DCA) dinilai lebih efektif daripada spekulasi jangka pendek.
Komposisi portofolio ideal disarankan mencakup 60% Bitcoin dan Ethereum, 20% altcoin pilihan, serta 20% stablecoin.
“Fokus jangka panjang pada fundamental dan manajemen risiko akan jauh lebih unggul daripada mengejar hype di kondisi seperti sekarang,” tegas Andri.



















