Prospek Saham Triputra Agro (TAPG) Tetap Menarik di Tengah Gejolak CPO

persen

Prospek Saham Triputra Agro (TAPG) Tetap Menarik di Tengah Gejolak CPO

Jakarta – PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) diproyeksikan mencatatkan kinerja keuangan yang solid hingga penghujung tahun 2026.

Optimisme ini muncul meskipun emiten perkebunan tersebut sempat mengalami tekanan operasional pada kuartal pertama tahun ini.

Analis Phillip Sekuritas Indonesia, Marvin Lievincent, menyatakan bahwa penurunan kinerja pada awal tahun adalah fenomena sementara yang akan segera pulih.

Dalam risetnya tertanggal 13 Juli 2026, Marvin menilai bahwa perusahaan mampu menavigasi kondisi pasar dengan terampil serta menunjukkan ketahanan operasional yang kuat.

Pendapatan perseroan pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp 2,5 triliun, atau mengalami koreksi 4,9% secara tahunan (YoY).

Penurunan ini utamanya disebabkan oleh volume produksi Crude Palm Oil (CPO) yang menyusut 6% YoY menjadi 141.646 ton.

Namun, tekanan tersebut berhasil diredam oleh lonjakan volume penjualan Tandan Buah Segar (TBS) eksternal yang melesat hingga 101% YoY.

Kenaikan beban operasional dan harga pupuk turut menggerus laba bersih sebesar 8,1% YoY menjadi Rp 767 miliar dalam periode yang sama.

Ke depan, para analis memprediksi pemulihan produksi akan terjadi secara signifikan pada semester II-2026.

Manajer perusahaan memproyeksikan distribusi produksi akan bergeser ke arah yang lebih tinggi pada paruh kedua tahun ini dengan rasio 48/52.

Secara tahunan, TAPG menargetkan pertumbuhan produksi TBS sebesar 6% hingga 10% dengan dukungan kondisi cuaca yang kondusif.

Menurut riset Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa, pada 12 Juni 2026, manajemen tetap optimistis bahwa implementasi mandatori Biodiesel B50 akan memperkuat permintaan domestik.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menyerap peningkatan produksi minyak kelapa sawit sekaligus menopang stabilitas harga komoditas di pasar.

Terkait biaya produksi, perusahaan disebut telah mengamankan pasokan pupuk untuk kebutuhan tahun 2026 dengan harga tahun lalu.

Meski demikian, terdapat kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga pupuk sebesar 20% hingga 30% pada tahun 2027 mendatang.

Dari sisi ekspansi, belanja modal (capital expenditure) perseroan tahun ini dialokasikan mencapai Rp 920 miliar.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahunan yang biasanya berkisar Rp 650 miliar hingga Rp 750 miliar.

Peningkatan anggaran ini difokuskan pada pembangunan pabrik kelapa sawit baru berkapasitas 45 ton per jam.

Fasilitas baru tersebut ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir 2027 atau awal 2028.

Selain itu, perusahaan terus melakukan penanaman kembali (replanting) seluas 4.000 hektare per tahun demi menjaga produktivitas lahan.

Daya tarik TAPG bagi investor juga diperkuat oleh kebijakan pembagian dividen yang cukup royal.

Dengan dividen sebesar Rp 180 per saham untuk tahun buku 2025, emiten ini menawarkan imbal hasil (yield) mencapai 12%.

Kondisi neraca keuangan yang sehat dinilai mampu menjamin keberlanjutan pembayaran dividen di masa depan.

Berdasarkan fundamental tersebut, para analis menyematkan rekomendasi beli bagi saham TAPG.

Marvin Lievincent menetapkan target harga di level Rp 2.050, sementara Yasmin Soulisa mematok target di angka Rp 1.980 per saham.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar