Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan pekan ini dengan pelemahan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan tantangan ekonomi domestik.
Pergerakan mata uang Garuda di pasar spot pada Jumat (24/7/2026) tercatat terkoreksi sebesar 0,15% ke level Rp 17.963 per dolar AS.
Data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia bahkan menunjukkan pelemahan yang lebih dalam, yakni sebesar 0,32% ke posisi Rp 17.973 per dolar AS.
Secara akumulatif dalam satu pekan terakhir, rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 0,23% di pasar spot dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat (17/7/2026).
Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang memicu volatilitas di pasar keuangan internasional.
Serangan militer yang saling dibalas oleh kedua negara tersebut telah memicu kekhawatiran serius mengenai keamanan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa memanasnya situasi di Timur Tengah merupakan eskalasi terburuk sejak gencatan senjata pada April lalu.
“Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal,” ujar Ibrahim, dikutip dari laman resmi pengamat pasar, Jumat (24/7/2026).
Ketidakstabilan di kawasan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang kemudian meningkatkan risiko inflasi global.
Kondisi tersebut memaksa investor bersikap defensif dan cenderung memegang dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian.
Selain tekanan eksternal, ekonomi domestik juga menghadapi tantangan berat berupa perlambatan investasi dan lemahnya konsumsi rumah tangga.
Ibrahim menilai bahwa banyak pelaku usaha memilih untuk menahan rencana ekspansi karena tingginya biaya pendanaan serta ketidakpastian ekonomi nasional.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun diproyeksikan masih akan tertahan di bawah level 5% akibat minimnya gairah konsumsi domestik.
Di sisi lain, kebijakan suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia dinilai belum cukup kuat untuk menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah.
Memasuki pekan depan, pelaku pasar kini tengah menantikan serangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Agenda tersebut mencakup keputusan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC) serta rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal II.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menuturkan bahwa dinamika kebijakan moneter The Fed akan menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang dunia.
“Seluruh faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan,” terang Amru, dikutip dari laporan riset pasar, Sabtu (25/7/2026).
Amru memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan rentang antara Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS.
Sementara itu, Ibrahim memperkirakan rentang pergerakan yang lebih lebar, yakni antara Rp 17.880 hingga Rp 18.250 per dolar AS.
























