Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) resmi menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 5,05 triliun untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung pada Rabu (10/6/2026). Pembagian dividen ini menjadi sorotan pasar karena terjadi di tengah tren penurunan harga saham perusahaan yang cukup signifikan dalam satu bulan terakhir.
Berdasarkan laporan Stockbit Sekuritas, estimasi nilai dividen yang akan diterima pemegang saham mencapai sekitar Rp 210 per lembar. Dengan harga penutupan saham ANTM di level Rp 2.750 pada saat RUPST digelar, tingkat imbal hasil dividen atau dividend yield berada di kisaran 7,6%. Angka tersebut tergolong atraktif bagi investor di tengah tekanan harga saham yang sempat terkoreksi 4,51% secara harian dan 25,68% dalam 30 hari perdagangan terakhir.
Besaran dividen tunai tersebut setara dengan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio sebesar 70% dari total laba bersih tahun 2025. Persentase ini tercatat lebih rendah dibandingkan kebijakan distribusi dividen pada tahun sebelumnya yang mencapai 100%. Manajemen memutuskan untuk menahan sisa laba bersih sebesar Rp 2,16 triliun sebagai laba ditahan guna mendukung operasional dan pengembangan bisnis perusahaan ke depan.
Kinerja keuangan ANTM sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang solid. Perusahaan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 7,21 triliun. Pendapatan usaha tercatat melonjak 22% secara tahunan menjadi Rp 84,64 triliun, di mana 96% dari pendapatan tersebut diserap oleh pasar domestik. Lonjakan pendapatan ini berdampak positif terhadap laba tahun berjalan yang tumbuh 106% menjadi Rp 7,92 triliun, serta peningkatan laba usaha yang mencapai 180% menjadi Rp 8,40 triliun.
Direktur Utama ANTM, Untung Budiharto, menegaskan bahwa hasil positif ini memperkuat posisi perusahaan sebagai entitas pertambangan mineral terintegrasi. Menurutnya, pencapaian tersebut menjamin kontribusi berkelanjutan baik bagi para pemegang saham maupun pembangunan industri nasional. Fundamental perusahaan juga didukung oleh posisi kas yang sangat kuat, di mana kas dan setara kas melonjak 77% menjadi Rp 8,43 triliun, serta peningkatan arus kas operasi sebesar 53% menjadi Rp 5,62 triliun.
Dari sisi operasional, segmen emas masih mendominasi dengan kontribusi pendapatan mencapai 79% atau Rp 66,47 triliun, didorong oleh tingginya permintaan domestik terhadap logam mulia sebagai instrumen safe haven. Sementara itu, segmen nikel mencatatkan rekor produksi dan penjualan tertinggi dalam satu dekade terakhir, dengan produksi bijih nikel mencapai 16,11 juta wet metric ton. Sektor bauksit dan alumina juga menunjukkan performa impresif dengan kenaikan produksi yang signifikan, menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah operasional perusahaan untuk segmen tersebut.






















