Sumbar Kembangkan Wisata Histori, Kenang Jasa Pejuang Bangsa

persen

dari-mural-redaksi-hingga-suguhan-destinasi-histori-sumbar
Dari Mural Redaksi hingga Suguhan Destinasi Histori Sumbar

Padang – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) didorong untuk mengoptimalkan potensi sejarah perjuangan sebagai daya tarik wisata. Kekayaan sejarah ini dinilai dapat menjadi modal besar untuk mencitrakan Sumbar sebagai daerah kelahiran para pejuang.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi, menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk merumuskan konsep yang tepat.

Dorongan ini muncul saat kunjungan Mahyeldi ke sebuah media lokal. Diskusi berawal dari mural para presiden Indonesia yang terpampang di dinding kantor media tersebut.

“Ini wajah-wajah presiden ya? Ini cukup lengkap ya. Ada Pak Syafruddin Prawiranegara, ada Pak Assaat,” ujar Mahyeldi, mengomentari mural tersebut.

Dari mural itu, diskusi berkembang ke potensi sejarah perjuangan di Sumbar. CEO media tersebut, Andri El Faruqi, mencontohkan antusiasme generasi Z pada peringatan 75 Tahun PDRI yang digelar beberapa waktu lalu.

“Dari iven ini tampak antusias terkait wisata sejarah ini cukup menjanjikan. Bahkan yang mendaftar saat itu hampir 300 orang. Ini sangat potensial untuk dikembangkan jika dikemas dengan konsep yang menarik,” kata Andri.

Menurut Andri, hampir seluruh kabupaten/kota di Sumbar memiliki peristiwa penting selama masa perjuangan dengan tokoh-tokoh pejuang yang lahir di sana.

Penasehat redaksi media tersebut, Hendra Makmur, menambahkan, Sumbar harus mulai membangun branding sebagai tanahnya para pejuang. Bahkan, ia mengusulkan tagline selamat datang di ranah kelahiran para pejuang di Bandara Internasional Minangkabau.

“Ini harus digaungkan untuk mendapatkan persepsi publik bahwa Sumbar adalah tanah kelahiran para pejuang. Pemerintah daerah punya andil besar untuk itu,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Gubernur Mahyeldi menyatakan kesiapannya untuk menyiapkan konsep yang tepat. Ia mencontohkan, peringatan Hari Bela Negara pada 19 Desember yang berdekatan dengan peristiwa Situjuah setiap tanggal 14 Januari dapat dikemas dalam satu iven yang berkesinambungan.

“Selain sebagai tujuan wisata, konsep ini juga sebagai narasi untuk mewariskan sejarah penting pada masa perjuangan kepada generasi muda,” pungkasnya.

Rekomendasi