Pertamina Geothermal Energy
PGE Genjot Proyek Panas Bumi di Sumatra dan Sulawesi
Agu. 23, 2026
Okt. 5, 2026
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 15,48% pada semester I 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh rekor produksi panas bumi yang mencapai 3.222 GWh serta peningkatan pendapatan yang signifikan dari keandalan operasional pembangkit.
Sep. 8, 2026
Pertamina Geothermal Energy (PGEO) mulai menggarap pasokan listrik panas bumi untuk mendukung pengembangan green data center dan ekosistem AI di Indonesia. Melalui strategi Beyond Electricity, perusahaan memanfaatkan energi bersih yang stabil sebagai solusi baseload bagi infrastruktur digital.
Agu. 23, 2026
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mempercepat pengembangan panas bumi melalui proyek bottoming unit di Ulubelu dan Lahendong serta eksplorasi baru di Cubadak Panti. Langkah strategis ini bertujuan meningkatkan kapasitas listrik bersih nasional menuju target Net Zero Emission 2060.
Jul. 24, 2026
Pertamina Geothermal Energy (PGEO) mendapatkan fasilitas pinjaman non-tunai sebesar US$ 75 juta dari Bank Mizuho Indonesia tanpa agunan. Pendanaan ini akan digunakan untuk mendukung operasional harian serta mempercepat pengembangan proyek panas bumi demi mencapai target kapasitas 1 GW pada 2028.
PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) resmi melunasi utang Kredit Modal Kerja dan Kredit Rekening Koran kepada BCA senilai Rp3 miliar. Langkah ini diambil sebagai upaya manajemen untuk menekan beban bunga, menjaga efisiensi biaya, serta memperkuat struktur permodalan perusahaan secara lebih prudent.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 15,48% pada semester I 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh rekor produksi panas bumi yang mencapai 3.222 GWh serta peningkatan pendapatan yang signifikan dari keandalan operasional pembangkit.

IHSG ditutup menguat tipis 0,03% ke level 6.038,989 pada perdagangan sesi pertama hari ini. Kenaikan indeks ditopang oleh sektor properti, dengan saham SCMA, AKRA, dan AADI memimpin deretan top gainers di jajaran LQ45.

Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.946 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pelemahan sebesar 0,36% ini sejalan dengan tren negatif mayoritas mata uang Asia yang tertekan oleh sentimen penguatan dolar AS serta ketidakpastian ekonomi global.




