Jakarta – Pasar modal Indonesia mencatatkan aktivitas luar biasa melalui transaksi jumbo saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) senilai Rp 26,1 triliun di pasar negosiasi pada Rabu (7/10/2026).
Volume saham yang berpindah tangan dalam transaksi tersebut mencapai 10,08 miliar lembar.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan transaksi ini dieksekusi dalam tiga tahap berbeda pada hari tersebut.
Harga yang disepakati untuk transaksi negosiasi ini berada di level Rp 2.588 per saham.
Angka tersebut terpaut sangat jauh di bawah harga penutupan saham BYAN di pasar reguler yang berada di level Rp 12.550 per saham.
Selisih harga ini mencapai sekitar 76,53% lebih rendah dibandingkan nilai pasar reguler pada penutupan Rabu (7/10/2026).
Volume transaksi 10,08 miliar saham tersebut memiliki kesamaan jumlah dengan rencana akuisisi oleh PT Jhonlin Baratama, entitas milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Perubahan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) yang ditandatangani pada 1 Oktober 2026 oleh Low Tuck Kwong, Elaine Low, dan pihak Jhonlin Baratama menjadi dasar dari perpindahan saham ini.
Dalam dokumen PJBS tersebut, jumlah saham yang dialihkan kepada Jhonlin Baratama disepakati sebanyak 10,08 miliar saham, atau setara dengan 30% dari total modal disetor BYAN.
Analis menyoroti bahwa meski terjadi perpindahan kepemilikan saham dalam jumlah besar, kendali perusahaan diperkirakan tidak akan bergeser.
“Perpindahan 30% saham BYAN tidak mengubah pengendalian perusahaan,” ujar Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal, Rabu (7/10/2026).
Fauzan menambahkan bahwa Low Tuck Kwong dan Elaine Low masih memegang porsi kepemilikan yang signifikan di perusahaan.
Kondisi tersebut membuat kewajiban penawaran tender wajib atau perubahan struktur dewan direksi belum diperlukan saat ini.
Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa harga Rp 2.588 per saham mencerminkan price to earnings (PE) annualized sekitar 6,1 kali.
Rasio ini jauh lebih rendah dibandingkan PE BYAN di pasar reguler yang mencapai 29,7 kali.
Transaksi ini dilakukan hanya berselang satu hari setelah Low Tuck Kwong melepas 33,33 juta saham BYAN di harga Rp 11.025 per saham pada 6 Oktober 2026.
Pasca-transaksi tersebut, kepemilikan saham Low Tuck Kwong tercatat berada di angka 40,15%.
Di sisi lain, kelompok usaha Haji Isam terpantau aktif melakukan aksi korporasi lain di pasar modal dalam periode yang berdekatan.
Dua entitas terafiliasi, yakni PT Eshan Agro Sentosa selaku pengendali PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan pemegang saham pengendali PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), telah menggadaikan saham mereka ke PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
PT Eshan Agro Sentosa menggadaikan 7,997 miliar saham JARR, yang merupakan seluruh porsi kepemilikannya.
Sementara itu, pemegang saham PGUN yakni PT Araya Agro Lestari, PT Baramega Citra Mulia Persada, dan PT Citra Agro Raya juga menggadaikan total 5,3 miliar saham perusahaan tersebut.
Manajemen JARR dan PGUN menegaskan bahwa aksi gadai saham ini tidak mengubah struktur pengendalian maupun jumlah modal perusahaan.
Langkah tersebut murni merupakan pengikatan jaminan atas fasilitas kredit dari perbankan.


















