Jakarta – UMKM Neng Mae kini tengah berjuang keras mempertahankan keberlangsungan bisnis jajanan tradisional Betawi di tengah membengkaknya biaya operasional.
Pemilik Neng Mae, Umairoh, bahkan sempat berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya karena pendapatan bulanan tidak lagi mampu menutupi beban biaya toko fisik di Rorotan, Jakarta Utara.
“Aku udah ngomong sama tim toko juga kayaknya kita mau ada PHK karena kita kayaknya sudah enggak sanggup menjalankan operasionalnya,” ungkap Umairoh saat ditemui di rumah produksinya, Rabu (29/7).
Krisis ini menjadi ironi mengingat omzet bulanan Neng Mae sebenarnya terus menunjukkan tren kenaikan hingga mencapai Rp40 juta pada 2024.
Namun, besarnya biaya sewa dan operasional toko yang disewa sejak 2023 justru menggerus keuntungan yang ada.
Bisnis ini bermula dari keresahan Umairoh yang kesulitan mencari oleh-oleh khas Betawi di luar musim Lebaran.
Ia kemudian melakukan riset kecil-kecilan untuk memastikan apakah kelangkaan tersebut dirasakan oleh orang lain.
“Saya coba validasi ke teman-teman yang merantau, benar enggak susah cari oleh-oleh Jakarta. Valid, memang susah. Akhirnya, lahir Neng Mae,” tutur Umairoh.
Sejak berdiri pada 2019, usaha ini telah melewati berbagai fase sulit, termasuk masa pandemi Covid-19 yang memaksa mereka bertahan dengan sistem pre-order.
Berbagai inovasi pun telah dilakukan, mulai dari rebranding kemasan menjadi pouch yang lebih aman hingga memperluas variasi produk seperti biji ketapang dan kembang goyang.
Meski omzet sempat merangkak naik dari Rp5 juta di awal berdiri hingga menyentuh angka Rp40 juta, tantangan ekonomi saat ini memaksa Umairoh untuk memutar otak agar bisnisnya tetap bertahan tanpa harus mengurangi jumlah tenaga kerja.






















