Wall Street Bergerak Variatif, Investor Cermati Tarif AS dan Konflik

Wall Street Bergerak Variatif, Investor Cermati Tarif AS dan Konflik

New York – Bursa saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan yang terbatas pada pembukaan perdagangan Jumat (24/7/2026).

Kondisi pasar yang cenderung stagnan ini dipicu oleh aksi jual sektor teknologi yang masif pada sesi sebelumnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis sebesar 79,7 poin atau 0,15% ke level 51.791,37.

Di sisi lain, indeks S&P 500 terkoreksi tipis 0,03% ke posisi 7.406,3.

Penurunan juga dialami oleh Nasdaq Composite yang melemah 0,12% ke level 25.107,38.

Para pelaku pasar saat ini tengah memfokuskan perhatian pada musim laporan keuangan perusahaan.

Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan tarif perdagangan terbaru dari pemerintahan Presiden Donald Trump menjadi sentimen utama yang menekan optimisme investor.

Analis Senior Capital.com, Daniela Hathorn, mengungkapkan bahwa saat ini pasar bersikap lebih selektif terhadap prospek perusahaan teknologi, terutama yang terkait dengan investasi kecerdasan buatan (AI).

“Pasar kini semakin menghargai eksekusi yang kuat dan tidak lagi mentoleransi belanja besar tanpa prospek imbal hasil yang jelas,” ujar Daniela Hathorn dilansir dari keterangan resminya, Jumat (24/7/2026).

Sentimen negatif sebelumnya dipicu oleh penurunan harian terdalam dalam sebulan bagi indeks S&P 500 dan Nasdaq pada Kamis (23/7/2026).

Kekhawatiran investor mencuat setelah laporan keuangan dari Alphabet dan Tesla yang mencerminkan besarnya belanja modal perusahaan teknologi.

Kondisi ini menambah kehati-hatian pasar menjelang rilis laporan keuangan raksasa teknologi lain seperti Microsoft, Amazon, dan Meta pekan depan.

Sebaliknya, Intel memberikan sedikit sentimen positif setelah memproyeksikan laba dan pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi analis.

Saham Intel sempat menguat 3,3% pada perdagangan prapasar meskipun sektor semikonduktor secara umum masih menunjukkan tren pelemahan.

Di luar kinerja emiten, kebijakan perdagangan Trump menjadi sorotan setelah pemerintah menetapkan tarif impor 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang.

Langkah ini diambil dengan alasan lemahnya penegakan larangan barang yang diproduksi melalui kerja paksa.

Ketegangan geopolitik juga membayangi pasar setelah presiden mengancam akan menjatuhkan hukuman militer besar terhadap Iran dan kelompok Houthi menyusul serangan di Laut Merah.

Harga minyak sempat melonjak melampaui US$ 100 per barel akibat konflik tersebut.

Meskipun harga minyak sedikit mereda pada Jumat, investor tetap cemas akan potensi gangguan pasokan energi yang dapat memicu inflasi kembali.

Ketidakpastian ini berimbas pada ekspektasi suku bunga, di mana peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve kini meningkat ke angka sepertiga.

Pasar juga menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) serta data awal indeks aktivitas manufaktur dan jasa (PMI) AS periode Juli.

Sementara itu, saham Oracle mencatatkan kenaikan 2,3% pasca pengumuman kontrak pemerintah senilai US$ 7 miliar untuk layanan komputasi awan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar