Jakarta – Kinerja keuangan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) yang mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang semester I-2026 justru berbanding terbalik dengan performa sahamnya di bursa.
Meskipun fundamental perusahaan menunjukkan penguatan, harga saham emiten sektor komunikasi ini terus mengalami pelemahan sepanjang tahun berjalan.
Pada penutupan perdagangan Selasa (15/9), harga saham INET berada di level Rp 322 per lembar.
Angka tersebut mencerminkan koreksi harian sebesar 10 poin atau sekitar 3,01%.
Secara akumulatif sejak awal tahun 2026, saham INET telah terkoreksi dalam sebesar 31,90%.
Tren negatif ini semakin terlihat jelas jika dibandingkan dengan posisi harga tertinggi perseroan yang sempat menyentuh Rp 685 pada 6 Januari 2026.
Kontradiksi antara pergerakan harga saham dan kinerja operasional menjadi sorotan pelaku pasar.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 33,67 miliar.
Realisasi tersebut melonjak tajam 340% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 7,65 miliar.
Peningkatan laba bersih ini didorong oleh lonjakan pendapatan yang mencapai Rp 926,45 miliar atau melesat 1.958% dibandingkan Rp 45 miliar pada semester I-2025.
Direktur Utama PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk, Muhammad Arif, menyatakan bahwa capaian tersebut merupakan bukti efektivitas strategi bisnis perseroan.
“Kinerja semester I-2026 menunjukkan INET berada pada jalur pertumbuhan yang semakin kuat,” ujar Arif, Senin (14/9/2026).
Dia menambahkan bahwa pertumbuhan pendapatan serta laba bruto menjadi landasan bagi perusahaan dalam menjaga disiplin operasional.
Segmen penyedia alih daya (outsourcing) tercatat menjadi kontributor utama pendapatan dengan perolehan Rp 782,86 miliar.
Sementara itu, layanan internet menyumbang pendapatan sebesar Rp 143,58 miliar.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai lonjakan pendapatan yang hampir 20 kali lipat menjadi katalis utama kenaikan laba bersih perusahaan.
“Hal ini tercermin dari pendapatan yang tumbuh hampir 20 kali lipat menjadi Rp 926,45 miliar, sehingga turut mendorong laba bersih naik 340% menjadi Rp 33,67 miliar,” kata Azis, Selasa (15/9/2026).
Senada dengan hal tersebut, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyoroti keberhasilan konsolidasi entitas baru sebagai pendorong ekspansi skala usaha.
“Ini mencerminkan ekspansi skala usaha melalui konsolidasi entitas baru ke dalam grup, sejalan dengan lonjakan total aset 703,69% dan ekuitas 787,42% yang memberikan basis modal lebih kuat untuk pertumbuhan ke depan,” ungkap Abida, Selasa (15/9/2026).
Kendati demikian, Abida mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap integrasi anak usaha baru.
Ia menekankan bahwa beban pokok pendapatan perseroan melonjak hingga 2.750% seiring dengan perluasan skala bisnis tersebut.
Saat ini, valuasi saham INET dinilai sudah berada di posisi premium dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 7,7 triliun.
Meski begitu, optimisme masih terlihat dari sisi analis.
Azis memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham INET dengan target harga di level Rp 400 per lembar.
Investor disarankan untuk terus memantau kemampuan manajemen dalam mengonversi pertumbuhan skala usaha menjadi profitabilitas yang berkelanjutan di masa mendatang.
















