Perang Iran Picu Kenaikan Harga Bahan Baku Industri

persen

pengusaha-laporkan-harga-bahan-baku-mulai-naik-imbas-perang-iran
Pengusaha Laporkan Harga Bahan Baku Mulai Naik Imbas Perang Iran

Jakarta – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai berdampak pada industri di Indonesia. Pengusaha melaporkan kenaikan harga bahan baku di sejumlah sektor.

Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Didik Prasetiyono, menyebut beberapa sektor yang terdampak. Di antaranya otomotif, elektronik, tekstil, farmasi, alat kesehatan, serta makanan dan minuman.

“Komponen bahan bakunya tinggi dan itu sudah melampaui kenaikan,” kata Didik dalam sebuah acara diskusi, Kamis (2/4).

Menurutnya, penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi penyebab utama gangguan jalur perdagangan global. Hal ini berdampak signifikan pada sektor-sektor tersebut.

Selat Hormuz bukan hanya jalur penting untuk komoditas energi, tetapi juga untuk produk berbasis petrokimia. Sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia juga melewati jalur ini.

Penutupan Selat Hormuz mendorong kenaikan biaya industri. Sektor petrokimia dan logistik merupakan komponen utama dalam struktur biaya.

Didik mencontohkan, kenaikan harga plastik menjadi salah satu dampak yang sudah dirasakan masyarakat. Industri plastik menjadi salah satu yang paling terpukul akibat lonjakan harga energi dan petrokimia.

Sektor makanan dan minuman yang memengaruhi inflasi juga terkena imbas. Tekstil, otomotif, elektronik, serta sektor logistik dan transportasi juga mengalami tekanan.

Menghadapi situasi ini, Didik meminta pemerintah lebih terbuka kepada publik. Ia menilai, pelaku usaha dan masyarakat memahami bahwa kondisi ini merupakan dampak krisis global, bukan semata kesalahan pemerintah.

Ia yakin pemerintah sudah berupaya keras menghadapi situasi ini, salah satunya dengan menahan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, ia menekankan pentingnya komunikasi yang jujur terkait kondisi krisis yang dihadapi.

“Kunci utamanya adalah kejujuran dan kebersamaan,” ujarnya. “Komunikasi publiknya, pemerintah terutama, jangan sampai offside dan sebagainya. Kita harus bersama-sama menghindari dampak yang tidak diinginkan.”

Didik juga meminta pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga energi, terutama BBM dan LPG. Selain itu, ia mendorong pemerintah menghadirkan kebijakan yang adaptif untuk menjaga daya saing industri nasional.

Ia mencontohkan perlunya kemudahan di sektor logistik dan transportasi melalui regulasi yang lebih antisipatif.

“Dunia usaha pun akan berusaha bertahan,” kata Didik. “Kita akan beradaptasi dan menyesuaikan biaya, menjaga produksi tetap berjalan, adaptasi di tengah ketidakpastian. Itu akan kita lakukan.”

Rekomendasi