Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,82% atau 52,18 poin ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026). Sentimen kebijakan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) satu pintu menjadi faktor utama yang menekan pergerakan pasar.
Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak fluktuatif di rentang 6.215,56 hingga 6.318,50. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp22,04 triliun dengan volume perdagangan 38,10 miliar saham dari 2,449 juta kali frekuensi transaksi. Sebanyak 510 saham terpantau melemah, sementara 217 saham menguat dan 232 saham sisanya stagnan.
Saham-saham sektor komoditas menjadi penekan utama indeks, di antaranya PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang melemah 9,23%, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turun 6,99%, dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) merosot 6,21%. Selain itu, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) terkoreksi 10,18% dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) melemah 6,31%.
Di sisi lain, beberapa saham mampu melawan arus, seperti PT Bukit Asam (persero) Tbk. (PTBA) yang naik 6,42%, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menguat 5,44%, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) naik 5,18%, serta PT Charoen Phokpand Indonesia Tbk. (CPIN) naik 2,71%.
Tekanan pasar ini dipicu oleh kebijakan pemerintah terkait tata kelola ekspor SDA melalui skema satu pintu lewat BUMN untuk komoditas kelapa sawit, batu bara, dan feroalloy. Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR menegaskan bahwa aturan ini akan mulai diterapkan secara bertahap pada 1 Juni 2026 hingga 31 Agustus 2026, sebelum diimplementasikan secara penuh pada 1 September 2026.
Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan devisa hasil ekspor (DHE), memperkuat kontrol negara, serta mencegah praktik under invoicing. Namun, tim riset Phintraco Sekuritas menilai aturan ini berpotensi meningkatkan kompleksitas administrasi dan menekan margin perusahaan akibat berkurangnya fleksibilitas perdagangan selama masa transisi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi bukan merupakan tanggung jawab pihak redaksi.




















