Jakarta – Diplomasi investasi yang dilakukan pemerintah melalui pertemuan dengan 122 investor global di Amerika Serikat dinilai menjadi kunci utama pemulihan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Langkah strategis ini terbukti mampu membalikkan sentimen negatif yang sempat menekan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal Juni 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan pertemuan tersebut berhasil menjawab keraguan investor mengenai komitmen fiskal dan iklim investasi domestik.
Menurutnya, para pemodal memberikan respons positif setelah mendapatkan penjelasan langsung mengenai peran Badan Pengelola Investasi Danantara.
“Korelasinya sebetulnya sangat kuat karena yang kita temui ini kurang lebih 122 investor dan mereka adalah investor yang berinvestasi di pasar modal Indonesia juga,” ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Ia menambahkan, proses dialog tersebut berlangsung intensif. Para investor global mengajukan berbagai pertanyaan kritis terkait tata kelola dan akuntabilitas Danantara sebelum memutuskan untuk kembali menempatkan modalnya di pasar domestik.
Sejalan dengan perbaikan sentimen tersebut, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman, menekankan bahwa pemerintah kini harus fokus menjaga momentum penguatan pasar keuangan.
Ia mengingatkan bahwa stabilitas rupiah dan IHSG ke depan sangat bergantung pada kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.
“Agar tren penguatan IHSG dan rupiah dapat terjaga, pemerintah perlu terus menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi melalui disiplin fiskal, kepastian regulasi, serta pengelolaan APBN yang lebih efektif dan produktif,” tegas Rizal.
Rizal memproyeksikan, jika kondisi global mendukung dan reformasi ekonomi domestik berjalan konsisten, IHSG berpotensi kembali ke level 8.000 dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Sementara itu, nilai tukar rupiah diprediksi dapat menguat ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS dalam satu hingga dua tahun.
Data pasar menunjukkan tren positif tersebut sudah mulai terlihat. Dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah terus menguat dari Rp 18.134 per dolar AS pada 9 Juni menjadi Rp 17.778 per dolar AS pada 15 Juni 2026.
Pada periode yang sama, IHSG juga mencatatkan kenaikan signifikan dari posisi 5.344,69 ke level 6.118,73.
Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa pemulihan pasar tidak boleh hanya mengandalkan sentimen sesaat.
Pemerintah dituntut untuk terus memperkuat fundamental ekonomi melalui reformasi struktural, peningkatan daya beli masyarakat, serta penguatan sektor industri agar pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan lebih berkualitas dan berkelanjutan.
























