Sjafrie Sjamsoeddin Evaluasi Latihan Militer Calon Manajer Kopdes Merah Putih

persen

Jakarta – Kementerian Pertahanan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan Program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menyusul insiden meninggalnya lima orang peserta selama masa pendidikan. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas keselamatan para peserta di berbagai lokasi pelatihan.

Evaluasi difokuskan pada aspek kesehatan dan penyesuaian porsi latihan fisik bagi peserta. Ketut menyatakan bahwa setiap satuan TNI yang bertindak sebagai penyelenggara di lapangan diinstruksikan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara mendalam sebelum memberikan beban fisik. Porsi latihan kini wajib disesuaikan dengan kapasitas fisik masing-masing peserta guna mencegah risiko cedera atau gangguan kesehatan fatal. Selain itu, penanganan medis terhadap peserta yang menunjukkan gejala sakit harus dilakukan dengan prosedur yang lebih cepat dan maksimal.

Selain aspek fisik, Kemhan juga merombak pemberian materi pendidikan agar lebih adaptif dan edukatif. Metode pembelajaran diarahkan untuk memperhatikan kondisi psikologis peserta dengan mengedepankan suasana yang mendukung kerja sama serta kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Perubahan ini diharapkan tetap mempertahankan esensi disiplin dan jiwa kepemimpinan tanpa mengabaikan aspek keselamatan peserta.

Insiden yang menimpa lima peserta Latsarmil menjadi sorotan publik setelah korban dilaporkan meninggal dunia di berbagai lokasi pendidikan. Korban yang meninggal adalah Yonanda Muhammad Taufiq di Baturaja, Anisa Muyassaroh di Balikpapan, Novia Rahmadhani Sihotang di Jakarta, Rifki Renaldi Gunawan di Jakarta Timur, serta Nola Dya Sari di Singkawang. Penyebab kematian bervariasi, mulai dari henti jantung, heat stroke, hingga penyakit bawaan seperti tuberkulosis.

Meski muncul desakan publik untuk menghentikan program tersebut, pihak Kemhan mengisyaratkan bahwa Latsarmil akan terus berlanjut. Ketut menjelaskan bahwa pelatihan ini krusial untuk membentuk karakter calon manajer koperasi yang akan mengelola dana rakyat di pedesaan. Menurutnya, jiwa disiplin, integritas, dan kemampuan bekerja di bawah tekanan merupakan kompetensi yang harus dimiliki pengelola koperasi desa dan Kampung Nelayan Merah Putih.

Ketut membantah anggapan bahwa pelatihan ini bertujuan mencetak prajurit militer. Ia menekankan bahwa materi bela negara dan manajerial dirancang untuk memperkuat mentalitas, daya juang, dan tanggung jawab peserta. Baginya, koperasi yang dikelola oleh individu dengan karakter kuat akan berkontribusi signifikan terhadap ketahanan ekonomi nasional di pedesaan.

Sebelumnya, kritik tajam sempat dilontarkan oleh peneliti Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS)-Yusof Ishak, Made Supriatma. Ia menilai bahwa porsi pelatihan fisik yang berlebihan tidak relevan dengan kebutuhan kompetensi manajer koperasi, seperti akuntansi, pemasaran, dan manajemen organisasi. Menurut Made, seharusnya fokus pelatihan lebih banyak diarahkan pada pengembangan kemampuan kognitif dan manajerial profesional daripada melibatkan aktivitas fisik yang berisiko tinggi. Namun, pihak Kemhan tetap berpegang pada argumen bahwa pembentukan karakter melalui disiplin militer merupakan fondasi penting dalam mendukung pembangunan ekonomi kerakyatan.

Rekomendasi